tele-vision

melihatlah ke masa depan

The State of the Art of Doing Nothing

Ditulis oleh toni di/pada 12007vUTC03bUTCMon, 26 Mar 2007 04:42:29 +0000 7, 2006

pernah ga sih anda mengalami sikon (situasi dan kondisi) yang membuat anda bingung mau melakukan apa. padahal anda tahu bahwa anda harus melakukan sesuatu, tapi anda merasa tidak tahu apa yang harus anda kerjakan. jadinya, apapun yang sempat terlintas di pikiran, itulah yang akhirnya anda lakukan

well, saat saya mengalami situasi-kondisi demikian. saya menamakannya sebagai ‘ the state of the art of doing nothing’ alias seninya bingung.

ceritanya sudah hampir 2 minggu terakhir ini saya mengalami hal di atas. jangankan melakukan sesuatu, melamunkan sesuatu pun bingung, apa yang mau dilamunin? banyak..!

memang sih, ada banyak hal yang bisa dilakukan.. tapi mostly membuat diri sendiri seperti robot yang lagi di cuci otak. memori tentang rasa senang mengerjakannya pun seakan hilang.  perlu di defrag kali ya…atau malah perlu di install ulang? hiii….syelemmm…

 well, satu hal yang paling bisa dilakukan untuk mempercepat berakhirnya kondisi ini adalah dengan memperbanyak aktifitas meet people

mo itu temen, anak jalanan, tukang becak, orang gedongan, jalan ke mall dll, yang penting meet people. see their faces, watch them doing something, chit-chat with them, even take a look close to their eyes to see what their hope for.  

dari situ, ada kemungkinan bermunculan hal-hal, ide-ide kreatif yang menaikkan kembali semangat saya dan juga anda.

sehingga mengembalikan aspek manusia yang dinamis dalam diri saya dan anda juga setelah menjadi seperti robot yang kaku karena tidak tahu harus melakukan apa, dengan rasa senang.     

Ditulis dalam Cerita hikmah | 3 Komentar »

DOSA-DOSA DOSEN EKONOMI INDONESIA?

Ditulis oleh toni di/pada 32007vUTC03bUTCWed, 21 Mar 2007 05:13:23 +0000 7, 2006

Dikutip dari percikan pemikiran Prof. Mubyarto (alm),  

dari situs jurnal ekonomi rakyat:

http://www.ekonomirakyat.org/edisi_6/artikel_3.

Satu kesalahan besar yang berubah menjadi semacam dosa dari dosen-dosen pengajar ekonomi di Universitas-universitas di Indonesia adalah bahwa mereka hanya mengajarkan separo saja dari ajaran ekonom klasik Adam Smith. Konsep Smith tentang Manusia Sosial (homosocialis, tahun 1759) dilupakan atau tidak diajarkan, sedangkan ajaran berikutnya pada tahun 1776 (manusia sebagai homoeconomicus) dipuja-puji secara membabi buta. Menurut konsep terakhir manusia bersifat egois dan selfish, yang tidak pernah mau tahu kepentingan orang lain meskipun yang benar adalah sebaliknya :

Man it  has been said, has a natural love for society, and desires that the union of mankind should be preserved for its own sake, and though the himself was to derive no benefit form it. (Adam Smith, 1759 h. 9).

Dosa ke-2 dari dosen-dosen ilmu ekonomi adalah mengajarkan secara penuh metode analisis deduktif dari teori ekonomi neoklasik, padahal seharusnya disadari bahwa Alfred Marshall dan Gustave Schmoller sebelumnya, yang merupakan tokoh-tokoh teori ekonomi Neoklasik, memesankan secara sungguh-sungguh dipakainya dua metode secara serentak (deduktif dan induktif), laksana 2 kaki (kanan dan kiri) untuk berjalan.

Ajaran asli Mazhab sejarah Jerman inilah yang sesungguhnya dan seharusnya mengingatkan peristiwa pergulatan metode (metodensreit) pakar-pakar ekonomi tahun 1873-1874 dalam penggunaan model-model matematika yang kebablasan dan sekaligus mengabaikan data-data sejarah yang relevan. Mengajarkan ilmu ekonomi matematika (matematika ekonomi) dianggap lebih gagah dibandingkan keharusan membaca data-data sejarah dalam buku-buku tebal, meskipun jelas mempelajari sejarah lebih relevan. Selain itu mengajar ekonomika secara induktif-empirik memang membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, dan jika waktu sangat mendesak atau terbatas, maka mengajar dengan metode deduktif memang merupakan pilihan yang mudah.

Kita tentu berterima kasih dan bersyukur ada ilmu sosial yang bernama ilmu ekonomi yang telah berjasa membantu manusia menyusun resep-resep dan model-model yang semakin canggih untuk membangun perekonomian modern, dengan akibat standar kehidupan manusia juga semakin tinggi.

Ekonomi Indonesia yang pada tahun-tahun awal kemerdekaan selama dua dasawarsa (1945-1966) merupakan perekonomian agraris yang terbelakang, kini sudah jauh lebih maju dan modern dengan standar hidup manusia rata-rata hampir 10 kali lipat. Pertanyaannya, apakah kemajuan tersebut merupakan jasa Ilmu Ekonomi? Mungkin lebih tepat pertanyaannya diubah menjadi sejauh mana ilmu ekonomi telah menyumbang pada kemajuan tersebut. Jika jawaban atas pertanyaan ini negatif, artinya sumbangan ilmu ekonomi hanya kecil saja dibanding ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu-ilmu teknik, pertanian, atau kesehatan, maka tidak ada masalah. Masalah akan timbul jika ilmu ekonomi dikatakan berperan sangat besar  dan menentukan dalam pembangunan nasional terutama sejak Orde Baru, dengan keterangan lebih lanjut bahwa para teknokrat ekonomilah yang telah berjasa besar, karena mereka menduduki posisi-posisi kunci dalam pemerintahan dan lembaga perencanaan ekonomi serta menjadi penetu-penentu kebijaksanaan pembangunan.

Memang tidak mungkin kita berteori seandainya pada awal Orde Baru bukan ekonom, tetapi sosiolog atau anthropolog yang lebih berperanan, apakah hasilnya akan berbeda, lebih baik atau lebih buruk. Namun jika era Orde Baru kini dianggap telah berakhir dan kini kita mengadakan reformasi dalam segala bidang termasuk reformasi ekonomi, tidak sahkah jika kita juga menggugat yang salah dalam pembangunan ekonomi, dan peranan ilmu ekonomi di dalamnya? Lebih jauh kiranya kita berhak mempertanyakan jangan-jangan jika ilmu ekonomi jenis lain yang kita terapkan dan kita ajarkan di Indonesia sejak lahirnya fakultas-fakultas ekonomi, kondisi masyarakat (ekonomi) kita lebih baik dari sekarang. Ilmu ekonomi lain sudah ada dan berkembang di dunia termasuk di Amerika Serikat, hanya saja karena ilmu ekonomi Neoklasik memang memegang monopoli untuk diajarkan di AS dan negara Eropa Barat lain, maka ilmu ekonomi itulah yang juga diajarkan dan diterapkan di Indonesia dan negara-negara berkembang lain.

Salah satu kelemahan amat menonjol dari Ilmu Ekonomi Neoklasik adalah keengganannya untuk memasukkan faktor budaya dan masalah keadilan dalam model analisisnya. Bagi Indonesia yang berideologi Pancasila yang bertujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, yaitu masyarakat yang adil dan  makmur berdasarkan Pancasila, maka pembangunan ekonomi dan ilmu ekonomi yang melandasi penyusunan kebijakan-kebijakan harus mempertimbangkan faktor keadilan ekonomi dan keadilan sosial. Dan ilmu ekonomi yang diajarkan di Fakultas-fakultas Ekonomi haruslah ilmu ekonomi kelembagaan ajaran John R. Commons yang dikembangkan di University of Wisconsin Madison tahun 1904-05.


VI. KESIMPULAN

Satu tahun menjelang pensiun, setelah 40 tahun mengajar, kami merasa bahwa sarjana-sarjana ekonomi yang kami didik dan kami hasilkan tidak terlalu berbeda dengan sarjana-sarjana ilmu sosial lain dalam keahlian dan ketrampilan memecahkan masalah-masalah sosial masyarakat. Di daerah-daerah, para sarjana ekonomi seringkali tidak menunjukkan kelebihan penguasaan cara-cara berpikir ekonomi dalam menyusun rencana-rencana pembangunan bagi pemerintah daerah dan masayarakat di daerah.

Jika berada di Bappeda, yang banyak diantaranya tidak dipimpin sarjana ekonomi, mereka, sarjana ekonomi, sering tidak menonjol berpikir tentang ekonomi. Tidak jarang sarjana-sarjana sosial non-ekonomi lebih cerdas berpikir ekonomi dan mampu mengusulkan rencana-rencana pembangunan yang rasional ketimbang sarjana ekonomi.Kesimpulan kita adalah bahwa pengajaran ilmu ekonomi di Fakultas-fakultas Ekonomi kita kurang tajam (vigorous), kurang relevan, atau keliru.

Lebih merisaukan lagi jika kemudian timbul kesan bahwa ilmu ekonomi mengajarkan bagaimana orang mencari uang, atau mengejar untung, dengan tidak mempertimbangkan akibat tindakan seseorang bagi orang lain. Ilmu ekonomi yang mengajarkan bahwa manusia adalah homo-economicus cenderung mengajarkan sikap egoisme, mementingkan diri sendiri, cuek dengan kepentingan orang lain, bahkan mengajarkan keserakahan. Karena ilmu ekonomi mengajarkan keserakahan maka tidak mengherankan bahwa dalam kaitan konflik kepentingan ekonomi antara perusahaan-perusahaan konglomerat dan ekonomi rakyat, para sarjana ekonomi cenderung atau terang-terangan memihak konglomerat.

Dan lebih gawat lagi mereka yang memihak ekonomi rakyat atau melawan konglomerat, dianggap bukan ekonom. Misalnya dalam masalah kenaikan upah minimum propinsi (UMP) tidak diragukan bahwa jika tidak mau di sebut “bukan ekonom” anda harus berpihak pada majikan /pengusaha karena pemaksaan kenaikan UMP “pasti berakibat pada meluasnya penggangguran”.

Sekiranya sebagian dosen Fakultas Ekonomi tidak sependapat dengan pandangan atau keprihatinan kami, dan tetap bersikukuh bahwa sarjana-sarjana ekonomi didikan kita sudah memenuhi “standar internasional”, yaitu penguasaan teori-teori ekonomi secara memadai, maka keprihatinan kami bergeser pada pertanyaan mengapa kita tidak berusaha keras menghasilkan sarjana ekonomi Indonesia yang benar-benar mampu memecahkan masalah-masalah ekonomi kongkrit yang dihadapi bangsa Indonesia. Mengapa dalam upaya pemulihan ekonomi kita tim ekonomi  pemerintah atau para ekonom di EKUIN atau BAPPENAS dikabarkan selalu menyatakan “tidak ada jalan lain” kecuali dengan cara berhutang lagi, atau merangsang investor-investor asing baru? 

Dalam menghadapi globalisasi dan “keharusan” mengadakan privatisasi BUMN, juga makin mencolok dan makin tajam perbedaan pandangan sarjana-sarjana ekonomi Indonesia. Mayoritas sarjana-sarjana ekonomi  Indonesia menganggap bahwa globalisasi tidak terelakkan dan akan “counter productive” jika kita mati-matian melawannya. Benarkah demikian? Mengapa kini banyak buku-buku “anti globalisasi” diterbitkan, dan sejumlah tokoh ekonomi (Pemenang Nobel 2001) Joseph Stiglitz “memberontak” terhadap cara-cara IMF dan Bank Dunia membantu negara-negara miskin.Mungkin masih tetap banyak yang tidak sependapat dengan kami bahwa dosen-dosen ekonomi di Universitas telah “berdosa” mengajarkan ilmu ekonomi secara keliru atau bahkan mengajarkan “ilmu ekonomi yang keliru”.

Jika demikian, mereka tetap merasa tak bersalah, kami ingin menghimbau sarjana ekonomi lain yang jumlahnya sedikit, yang setuju dengan pandangan kami, untuk bekerja keras mengajak rekan-rekan lainnya  yang belum masuk barisan untuk memperkuat barisan. Marilah kita membuat gerakan “mengkaji ulang” relevansi teori-teori ekonomi yang sudah mapan dari Amerika ini. Ilmu ekonomi sebagai ilmu sosial harus kita “Indonesiakan” menjadi ilmu ekonomi yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun, khususnya dalam memberdayakan ekonomi rakyat. Dan caranya, seperti sudah disinggung di atas, ilmu ekonomi di Perguruan Tinggi harus diajarkan bersama sejarah ekonomi bangsa, ilmu sosiologi, antropologi, dan etika Pancasila.  

berikut ini merupakan pandangan para ahli ekonomi dunia yang bernada sama dengan prof. Mubyarto terhadap ilmu ekonomi sekarang ini :

“. . . economics has become increasingly an arcane branch of mathematics rather than dealing with real economic problems”

Milton Friedman

 

“[Economics as taught] in
America’s graduate schools… bears testimony to a triumph of ideology over science.”
Joseph Stiglitz

 

“Existing economics is a theoretical [meaning mathematical] system which floats in the air and which bears little relation to what happens in the real world”

Ronald Coase

 

“We live in an uncertain and ever-changing world that is continually evolving in new and novel ways. Standard theories are of little help in this context. Attempting to understand economic, political and social change requires a fundamental recasting of the way we think”

Douglass North

 

“Page after page of professional economic journals are filled with mathematical formulas […] Year after year economic theorists continue to produce scores of mathematical models and to explore in great detail their formal properties; and the econometricians fit algebraic functions of all possible shapes to essentially the same sets of data”

Wassily Leontief

 

“Today if you ask a mainstream economist a question about almost any aspect of economic life, the response will be: suppose we model that situation and see what happens…modern mainstream economics consists of little else but examples of this process”

Robert Solow

Ditulis dalam ekonomi-politik | 6 Komentar »

Sistem Profit-Loss Sharing bagi tenaga kerja

Ditulis oleh toni di/pada 52007vUTC03bUTCFri, 09 Mar 2007 09:05:35 +0000 7, 2006

1.         Pendahuluan 

            Tulisan ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan perilaku produsen dalam memproduksi suatu barang atau jasa, terutama yang berkaitan dengan konsep biaya produksi dan konsep penawaran.. Tulisan ini mencoba mengkaji perilaku produsen dengan sudut pendekatan yang berbeda dalam memandang biaya produksi dan penawaran. Dalam arti, makalah ini selain akan membandingkannya dengan konsep konvensional, juga dengan mengkaji lebih mendalam model dan konsep biaya produksi dan penawaran yang sudah dibuat oleh para ahli ekonomi islam dan mencoba lebih menyempurnakannya. Hal ini di karenakan jika sekedar membandingkan dengan ekonomi konvensional, sudah banyak makalah lain yang mengemukakannya, sehingga tidak ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan. Akan tetapi, bila juga dilakukan pendalaman terhadap konsep dan model yang sudah dibuat oleh para ekonomi Islam, diharapkan ada hal baru yang dapat ditawarkan.

            Dalam ekonomi Islam diketahui bahwa ada 4 hal yang dilarang dalam menjalankan aktivitas ekonomi, yaitu : mafsadah, gharar, maisir, dan transaksi riba. Mafsadah, gharar dan maisir sebagai tindakan yang menyebabkan kerusakan (negative externalities) sebagai akibat yang melekat dari suatu aktivitas produksi yang hanya memperhatikan keuntungan semata, walaupun sudah dikemukakan, namun tidak tercerminkan dengan baik di dalam konsep dan model dalam ekonomi Islam, sehingga sisi ini akan mendapat perhatian lebih banyak. Sedangkan pelarangan terhadap transaksi riba tidak akan begitu mewarnai pembahasan tentang konsep biaya produksi dalam Islam, karena sudah dijelaskan dengan lebih detail pada buku ataupun paper makalah dan jurnal lainnya. Sehingga makalah ini akan lebih banyak mencoba membuktikan bagaimana dampak positif terhadap tingkat efisiensi produk apabila dalam proses produksi sebuah perusahaan yang sesuai syariah tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya mafsadah, gharar dan maisir.

Adapun konsep penawaran merupakan bentuk perilaku ekonomi yang sangat penting dalam teori ekonomi, baik makro maupun mikro. Konsep ini juga dapat menjelaskan hubungannya dengan perilaku produsen dalam penetapan harga yang didahului dengan perhitungan biaya produksinya. Bila hukum penawaran ditetapkan dengan mengasumsikan faktor-faktor yang mempengaruhi determinasi harga terhadap penawaran dianggap tetap (ceteris paribus), sedangkan bila penawaran yang menentukan harga maka disebut teori penawaran (tanpa asumsi ceteris paribus). Maka, diperlukan konsensus yang baru terkait tanggung jawab sosial dan lingkungan yang perlu untuk diperhitungkan di dalam penawaran terkait aspek mafsadah, gharar dan maisir.

  2.        Konsep Biaya Produksi Dalam Perusahaan Islami       Baik ekonomi konvensional maupun sebagian ekonom muslim mengakui bahwa ada 4 faktor produksi utama, yaitu tenaga kerja, modal, sumberdaya alam, dan teknologi. Dari keempat faktor produksi tersebut, modal dikatakan sebagai faktor penting yang memiliki perbedaan besar dalam perspektif ekonomi Islam. Ini dikarenakan adanya unsur interest atau riba dalam modal pada ekonomi konvensional, sedangkan pada ekonomi Islam riba sangat dilarang. Dalam ekonomi Islam dikenal sistem pembiayaan berdasarkan profit sharing ataupun revenue sharing. Hal tersebut tidak akan banyak dibahas disini mengingat sudah banyak buku dan makalah yang mengupasnya. Dengan kata lain, makalah ini akan lebih banyak mengkaji dan mempertanyakn faktor produksi lainnya, yaitu tenaga kerja, sumberdaya alam dan teknologi yang tidak banyak dibahas dalam ekonomi mikro, selain hanya dalam kacamata makro dan itupun untuk melihat hubungannya dengan yang lain (inflasi, pendapatan nasional dsb). 

2.1.      Tenaga Kerja: Biaya Produksi Atau Aset ?             Banyak literatur ekonomi, baik ekonomi konvensional atapun ekonomi Islam meyebutkan bahwa tenaga kerja sebagai faktor produksi itu adalah biaya bagi perusahaan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa salah satu penyebab efek ekonomi biaya tinggi dalam sekup mikro adalah besarnya beban gaji karyawan sebagai komponen biaya dalam perhitungan produksi, karena ketika harga barang naik, yang umumnya langsung berkaitan adalah permintaan kenaikan gaji untuk menyesuaikan dengan lonjakan harga barang. Itu jika menggunakan sudut pandang bahwa tenaga kerja merupakan biaya.

            Sekarang, bagaimana bila sudut pandang tersebut di ubah bahwa tenaga kerja adalah aset investasi dan bukan biaya. Dari sisi literatur sepertinya tidak banyak ditemukan literatur ekonomi yang mengemukakan hendaknya tenaga kerja dipandang sebagai aset dan bukan biaya (kecuali sejumlah buku terbaru yang mengetengahkan pentingnya memberi peran baru pada modal manusia (human capital) dalam melesatkan laju perekonomian seperti Nonaka dan Takeuchi (1995) dalam bukunya yang berjudul ” The Knowledge Creating Company” yang kini mulai menjadi tren di era ekonomi baru berbasis pengetahuan). Pandangan tenaga kerja sebagai biaya ini mungkin disebabkan begitu intrinsiknya pandangan David Ricardo dalam bukunya ”On The Principles of Political Economy and Taxations” yang memandang hubungan antara pengusaha atau pemilik modal, tenaga kerja dan lahan yang tersedia adalah sebentuk konflik kelas yang saling bersaing sepanjang waktu. Karena asumsi yang dipakainya, bila upah naik, maka profit turun dan begitupun sebaliknya, untuk mendapatkan bagian barang dan jasa yang diproduksi. (lihat gambar berikut)

konflik2.jpgGambar 1.Model ”Konflik Kelas” Ricardo:

Dari gambar di atas terlihat bahwa pekerja dan Kapitalis (pemilik) saling bersaing untuk mendapatkan bagian barang dan jasa yang diproduksi  Sehingga, menjadi menarik untuk dikaji secara mendalam, bagaimana bila tenaga kerja adalah aset dan bukan biaya, bagaimana menurunkan ke dalam model ekonominya. Dalam hal ini, tidak mudah menurunkannya jika menggunakan ekonomi konvensional. Tetapi menjadi lebih mudah bila menurunkannya dengan menggunakan pendekatan syariah, yaitu bagi hasil, baik revenue sharing ataupun profit-loss sharing dengan format musyarokah. Dalam hal ini, tenaga kerja dikatakan sebagai aset karena mereka menginvestasikan waktu dan tenaga mereka untuk berproduksi. Jadi, tenaga kerja pun berhak mendapat bagian yang sepadan dengan investor dalam bentuk musyarokah, dan tidak dalam bentuk upah atau gaji karena diposisikan sebagai ajir.                


 

 

 

 

pls.jpg 

Gambar 2. Perbandingan Model Skim Revenue untuk tenaga kerja antara sistem gaji dan sistem sharing (bagi hasil)

Model skim jaroh (upah/ gaji) pada perusahaan yang menerapkan syariah sebagus apapun praktiknya, tidak akan dapat lepas dari model ’konflik kelas’ Ricardo yang kemudian menjadi alat analisis Marx sehingga memunculkan sosialisme. Sehingga, boleh jadi para pendukung Marx kontemporer akan berbalik menyerang pandangan ekonomi Islam karena situasi konflik yang mendasarinya masih akan terus berlanjut di dalam sistem ekonomi Islam. Dan itu sesuatu yang tidak kita inginkan bersama.

Dengan mekanisme PLS, tenaga kerja tidak lagi menjadi inferior, dan pengelola ataupun pemilik usaha serta investor tidak lagi merasa superior. Melainkan sebagaimana yang diimpikan oleh para ekonom muslim akan terciptanya kondisi kemitraan yang sesungguhnya, tidak saja antara investor dengan pemilik usaha ataupun pengelola, melainkan juga pengelola dengan tenaga kerja. Sehingga efek mafsadah dari kompetisi upah pekerja vs profit pengusaha dapat dieliminir, disamping mengurangi bahaya perbudakan manusia oleh manusia di dalam perusahaan.  

Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan syariah, meski tidak memakai bunga, masih memiliki beban biaya yang tinggi, karena faktor tenaga kerja masuk ke dalam komponen biaya. Apabila menggunakan mekanisme PLS, dengan harga dan jumlah barang produksi yang sama, tentu akan menghasilkan keuntungan bersama yang jauh lebih besar bagi setiap pihak. Sehingga, pada satu waktu, si pekerja yang berada di level paling bawah pun juga dapat membayar zakat karena bagian keuntungan untuknya juga meningkat seiring kemajuan perusahaan. 

2.2.            Sumber Daya Alam: Mengatasi Eksternalitas Negatif   Pada Lingkungan 

Salah satu upaya perusahaan dalam meningkatkan keuntungan dari kegiatan usaha umumnya adalah dengan melakukan efisiensi biaya pada input dan proses namun dapat menghasilkan output yang sama atau bahkan lebih  Akan tetapi, sering dijumpai di lapangan bahwa karena efisiensi biaya demi meningkatkan keuntungan, yang muncul adalah kerugian akibat datangnya persoalan eksternalitas negatif bagi lingkungan sekitar tempat perusahaan beroperasi yang tentunya berimbas kepada kerugian perusahaan itu sendiri.    

Cara yang umum dipakai perusahaan konvensional dalam mensiasati biaya eksternalitas yang mungkin ditimbulkan dari kegiatan usahanya adalah dengan membebankan biaya eksternalitas tersebut kepada konsumen. Hal ini mungkin terdengar logis, tapi tidak jika ditinjau dari bahaya gharar. Bahwa konsumen harus membayarkan sejumlah uang untuk membeli barang yang jika mereka tahu bahwa barang itu diproduksi dengan turut menghasilkan bahaya limbah yang berbahaya, baik bagi mereka ataupun orang lain, maka mereka tidak akan membelinya.

Kesadaran konsumen di berbagai belahan dunia saat ini semakin meningkat terkait maraknya kritikan dari para ekologis ketika mengusung isyu kesehatan manusia itu sendiri ketika mengkonsumsi produk yang dibelinya. Sehingga yang ditakutkan produsen saat ini adalah bangkitnya kesadaran konsumen di seluruh dunia terhadap apa-apa yang masuk ke perut mereka, kecuali di Indonesia yang sebagian besar konsumennya masih dapat ’ditipu’.

Boleh jadi berbagai perusahaan di Indonesia saat ini masih cukup dapat ’bernapas lega’ karena tidak banyak mendapat kritik dan serangan dari kalangan ekologis seluruh dunia. Namun, diduga kuat kritik-kritik mereka akan semakin gencar di tahun-tahun mendatang, sementara ekonomi Islam sendiri masih belum dapat memformulasikan secara sistematis mengatasi eksternalitas selain menyandarkan pada etika Islam dan berlindung di balik etika tersebut.

Boleh jadi, yang akan dikritik oleh para ekologis di seluruh dunia adalah perusahan-perusahaan yang mengaku syariah tapi tidak dapat mengatasi limbah hasil kegiatan usahanya sendiri (mulai dari kertas-kertas berkas laporan sampai pendingin ruangan). Oleh karena itu, perlu dibuat model ekodesain usaha yang dapat menjadi rujukan perusahaan-perusahaan syariah dalam mengatasi eksternalitas yang dihasilkan dari kegiatan usahanya sendiri. 

Salah satu model ekodesain usaha tersebut misalnya membangun gedung kantor cukup dengan bata alami. Meskipun kelihatannya tidak estetik, penggunaan bata alami mampu menyerap udara luar ruang dan mempertahankan kondisi udara dalam ruang tetap sejuk, sehingga tidak diperlukan pendingin ruangan tambahan. Jika bangunannya bertingkat, maka posisi cahaya masuk haruslah menyamping dari arah lintasan matahari, sehingga jendela ruangan dapat dibuka tanpa harus khawatir terkena langsung udara panas dari arah depan. Contoh ekodesain usaha lainnya adalah memanfaatkan kertas-kertas berkas laporan sebagai media artistik promosi pada perusahaan. Dalam arti, setiap kertas berkas laporan yang tak lagi dipakai, isi laporannya tetap dapat diabadikan dengan proses digitalisasi, sementara kertas-kertas itu sendiri masih dapat dikumpulkan, ditempel di bagian dalam ruang dan dicat dengan warna-warni oleh para karyawan sehingga memenuhi dinding ruang ataupun dibingkai dengan pigura sehingga terlihat unik.

Sehingga, tidak saja kertas-kertas tersebut menjadi sebentuk wallpaper pelapis dinding yang kreatif tetapi juga media ”menghidupkan” suasana dalam ruang. Khawatir kehilangan formalitasnya? Sejumlah penelitian membuktikan bahwa interior ruang yang dinamis dapat meningkatkan produktivitas karyawan perusahaan yang bersangkutan.      

 2.3.            Teknologi: Mensiasati dari produksi masal ke produksi kustom. 

 Keberadaan teknologi disebut-sebut sebagai pemicu peningkatan profitabilitas yang signifikan. Dimana ketika penambahan modal tak lagi mampu meningkatkan jumlah output, maka menemukan teknologi baru yang dapat mendongkrak jumlah output sekaligus mengurangi input produksi (tanpa mengurangi tenaga kerja) laksana mencari oase baru sebagai tugas utama perusahaan. Pencarian teknologi baru pun merupakan sebuah hal yang krusial mengingat biaya yang dikeluarkannya tidak sedikit serta amat mungkin membutuhkan waktu yang panjang untuk menemukannya. Walaupun belakangan ini teknologi baru selalu ditemukan setiap tahunnya. Oleh karena itu, umumnya perusahaan dalam model ekonomi konvensional, menekankan perubahan pada dimensi proses pengerjaan dengan tetap menggunakan teknologi lama. Yakni dari produksi masal ke produksi kustom, karena lebih hemat biaya. Sebelum ditemukannya teknologi baru.

Produksi masal didefinisikan sebagai produksi barang yang sama, baik jenis dan ukuran dalam jumlah banyak. Contohnya seluruh area sawah hanya ditanami padi atau jagung pada perkebunan, atau produksi celana panjang pada pabrik celana, atau produksi mobil pada sebuah pabrik mobil. Seringkali produksi masal menjadi ukuran output yang ditetapkan agar perhitungan biaya dan keuntungan dapat dipastikan sedemikian rupa, serta demi menjaga ketercukupan pasokan di pasaran. Hal tersebut memang terdengar logis dan tidak salah. Tapi hal ini yang justru memunculkan inefisiensi dan menimbulkan bahaya maisyir dikarenakan seluruh sumberdaya dimaksimalkan sedemikian rupa pada satu periode produksi, sehingga apabila tiba-tiba sawah tersebut diserang hama sehingga habis atau pun pabrik mobil tadi tiba-tiba mengalami musibah, maka habislah semua sumberdaya berikut outputnya tersebut dengan sekejap, akibat uncertainty of future situation.

Oleh karena itu, sejumlah perusahaan kemudian menggeser pola produksinya dari masal ke kustom. Produksi kustom didefinisikan sebagai memproduksi barang dan jasa yang jumlah dan harganya disesuaikan dengan segmen (niche) pasar yang dibidik. Dengan melakukan produksi kustom, perusahaan dapat memperkirakan lebih efisien berapa dan kapan barang tersebut akan diproduksi.

Model produksi kustom ini sesungguhnya mirip dengan cara Nabi berdagang, dimana beliau tidak menjual barang yang sama terus-menerus, melainkan pada satu waktu ia menjual kain, pada waktu yang lain ia menjual tembikar yang tentunya dengan kualitas yang bagus. Dalam implementasinya, sebuah perusahaan dapat menerapkan model produksi JUST-IN-TIME atau pun rotasi produk.

Sebagai contoh: sebuah pabrik TV tidak perlu memproduksi banyak TV untuk mengejar keuntungan optimal. Cukup membuat 1000 unit TV yang dikustomisasi sesuai segmentasi konsumen, misalnya TV untuk anak muda, yang umumnya suka dengan desain yang unik, warna favorit serta bila memungkinkan bersifat portable. Harga tidak perlu mengikuti harga pasar, bahkan membuat harga baru karena produknya dibuat khusus dan inovatif. Bila ada pesaing yang mencoba meniru, produsen TV dapat melakukan kustomisasi baru lagi yang sulit diikuti oleh pesaing tersebut. sehingga efisiensi bukan pada minimalisasi input dan maksimalisasi output, tapi pada spesifikasi input untuk membuat produk yang optimal dengan segmen pasar yang dituju.

Untuk kasus yang ekstrem seperti beras, sebagai makanan pokok orang Indonesia yang katanya tidak dapat digantikan dengan yang lain sehingga lebih sering impor daripada swasembada. Sebetulnya juga dapat menggunakan pola rotasi produksi yang bersifat menguntungkan petani (karena umumnya petani tertindas akibat ketetapan harga dasar gabah pemerintah), ramah lingkungan dan juga kustomis dengan segmen.

Bila umumnya petani terbebani biaya produksi yang tinggi pada pestisida dan obat-obatan lainnya namun harga jual tidak sepadan dengan pengeluarannya, petani tersebut dapat melakukan rotasi pola produksi antara pertanian yang menggunakan pestisida dengan pertanian alami di satu area lahan. Bila tanah aslinya sudah lama tercemari dengan pestisida untuk pertanian pada umumnya. Maka ketika rotasi produksi padi dengan cara pertanian alami dapat menggunakan sistem pertanian hidroponik di atas lahan yang tercemar tersebut. Si petani memproduksi 2 jenis padi yang berbeda dan tentunya dapat dijual dengan harga yang berbeda, yang pemerintah pun tidak dapat memaksakannya. Karena beras hasil pertanian alami akan berharga lebih mahal daripada beras hasil rekasaya genetik ataupun tercampur pestisida. Terdengar kejam dan berpihak pada yang kaya? Tidak, jika lembaga perbankan syariah ataupun badan Zakat dapat mensupport petani untuk memproduksi padi alami dan sehat ketimbang memproduksi padi hasil rekayasa genetik bercampur pestisida. 

ReferensiAdiwarman Karim, 2003. Ekonomi Mikro Islam. IIIT Indonesia.Mark Skoussen, 2001 Teori-teori ekonomi modern, Prenada: Jakarta     Don Tapscott, 2003, Digital Economy, Abdi Tandur: Jakarta

RAFI, 2004, Enclosure of the mind (kapling-kapling daya cipta manusia): monopoli-

_____  monopoli intelektual atas kearifan local & keanekaragaman hayati, Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas:
Jakarta

Vandana Shiva, 2001, Bebas dari Pembangunan, Yayasan Obor Indonesia:
Jakarta       

Ditulis dalam ekonomi-politik Islam | Leave a Comment »

Flu burung dan Anthrax di Indonesia: Teror senjata biologis ?

Ditulis oleh toni di/pada 72007vUTC03bUTCSun, 04 Mar 2007 23:57:37 +0000 7, 2006

Berbagai media sempat ramai mengangkat isyu-isyu yang sejenis, yaitu teror. Mulai dari teror bom, hadirnya penyakit flu burung yang diikuti dengan anthrax, hingga isyu impor beras asing baru-baru ini sebagai teror terhadap pangan nasional. Dibanding isyu teror bom berikut pencarian oknum-oknumnya dan isyu impor beras, flu burung dan anthrax menempati posisi permasalahan yang unik sekaligus rumit.

Isyu ini dikatakan unik karena pertama, ia berhubungan langsung dengan kesadaran mental setiap orang yang peduli dengan kesehatan dirinya. Karena, mau tidak mau, implikasi dari pengumuman kedua penyakit tersebut ke ranah publik menjadi meluas. (1). Pengumuman tersebut membuat orang waspada dan selektif dalam memilih makanan yang hendak masuk ke perutnya. (2). pengumuman tersebut di satu sisi memukul industri ternak ayam dan sapi karena orang jadi mengurangi permintaan konsumsi terhadap keduanya.

Di sisi lain, pengumuman tersebut menjadi bak hujan emas bagi industri kesehatan, baik kesehatan ternak maupun manusia. Karena munculnya penyakit baru berarti bisnis dan proyek baru di sektor kesehatan. Mulai dari obat vaksinasi ternak sampai proses vaksinasi itu sendiri, program-program penelitian dan penyuluhan kesehatan ternak maupun konsumsi ternak, sampai publisitas diri maupun lembaga yang berhubungan dengan kedua penyakit tersebut.

Kedua, ia berhubungan dengan apa yang kita sebut sebagai contoh riil senjata biologis. Entah kenapa, sampai saat ini belum banyak ahli yang menyinggung potensi flu burung dan anthrax sebagai senjata biologis. Padahal beberapa tahun terakhir ini boleh di bilang merupakan tahun-tahun penuh teror.

            Dalam psikologi teror, senjata untuk teror tidak harus berupa mesin pembunuh kaliber bom nuklir ataupun bom bunuh diri seperti 9/11 dan bom
Bali. Cukup dengan sejumlah orang sebagai bukti korbannya dan publikasi masal: “AWAS! FLU BURUNG DAN ANTHRAX TERSEMBUNYI DALAM DAGING YANG ANDA MAKAN, ANDA TIDAK SELALU TAHU APA YANG ANAK ANDA MAKAN DI LUAR RUMAH.” Pesan ini akan membuat orang tua waspada terhadap anak-anaknya. Minimal, orang tua akan rajin berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak sembarangan makan di luar atau menyarankan untuk memakan bekal yang dibawa dari rumah.

Jika pesan ini berhasil. Akan dilanjutkan dengan pesan berikutnya yang lebih kuat. Jika orang semakin takut dengan ayam dan sapi, teror pun berhasil. Karena, orang-orang itu akan dengan sendirinya mencari dan patuh kepada siapa pun yang bisa menjamin keamanan dalam mengkonsumsi daging.

            Kembali ke potensi flu burung dan anthrax sebagai teror senjata biologis. Ia tidak terasa sebagai senjata karena ia sesuatu yang dekat dan terkadang menjadi bagian dari konsumsi kita. Disinilah letak kerumitan dalam mendeteksi teror senjata biologis. Ia boleh jadi tersembunyi dalam daging kesukaan kita, lalu tertempel pada bibir gelas kopi, susu atau pun air yang kita minum. Karena tidak dicuci bersih, gelas tersebut masih tertempel virus flu burung atau pun anthrax. Hingga kemudian virus tersebar pada siapa pun yang menggunakan gelas tersebut selama belum steril.

Setelah itu, medium persebaran bukan lagi pada ayam atau sapi, melainkan sudah antar manusia, seperti halnya HIV/AIDS. Bila pola persebarannya sudah sampai sedemikian rupa, orang bukan lagi takut pada ayam atau sapi, melainkan sudah takut berhubungan dengan sesama manusia karena takut ketularan. Bila sudah sampai tahap ini, bisa saja setiap manusia menjadi ancaman bagi manusia yang lain. Anak tidak mau dekat dengan orang tua yang tertular dan sebaliknya, teman tidak mau mendekat dengan keluarga temannya yang tertular, dan sebaliknya. Yang terjadi kemudian adalah terjadinya multiplier effect krisis ketidakpercayaan terhadap manusia itu sendiri. Dan itu adalah inti dari teror, menimbulkan ketidakpercayaan dan ketergantungan terhadap siapa pun yang mengklaim mampu mengatasi teror tersebut (siapa lagi kalau bukan si pembuat teror).

Sebetulnya siapa pun bisa melakukan teror ini, baik sengaja maupun tidak. Namun, umumnya teknik ini sudah jamak di dunia agen rahasia dan intelijen asing dalam upaya menjatuhkan pemerintah lawan secara terselubung. Karena orang lebih waspada terhadap musuh berupa orang dari pada musuh berwujud makanan (detasemen 88 lebih sergap memburu dr.Azahari dan komplotannya ketimbang memburu unggas dan sapi).

Boleh jadi saat ini, secara sembunyi-sembunyi Indonesia tengah menjadi
medan eksperimentasi teror dan anti-teror. Dengan maraknya berbagai aksi teror yang merebak, tentu kita juga perlu memperhatikan salah satu potensi teror dengan menggunakan senjata biologis dalam bentuk flu burung dan anthrax di
Indonesia. Karena inti dari aksi teror adalah membangun opini ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. Akan sudah bisa diduga bagaimana reaksi publik bila pemerintah tidak mampu menghentikan persebaran flu burung dan anthrax berikut jumlah korbannya.  minimal, mosi tidak percaya terhadap pemerintah akan meningkat, selebihnya, boleh jadi tuntutan mundur akan datang silih berganti.

Ditulis dalam keamanan non-tradisional | 1 Komentar »

Negara dan Kesadaran Semu

Ditulis oleh toni di/pada 72007vUTC03bUTCSun, 04 Mar 2007 23:52:18 +0000 7, 2006

 

A.        Eksistensi Negara dan Kesadaran Semu

            Adalah penting untuk memahami alasan mendasar dari eksistensi sebuah negara sebelum membahas hal-hal yang berkenaan dengan tugas, peran dan tanggungjawab negara. Alasan tersebut boleh jadi berbeda antara negara satu dengan lainnya, karena tidak terlepas dari kondisi historis yang melatarinya.

Urgensi terhadap masalah ini dikarenakan sikap acuh- tak acuh dari warga negara dalam kaitannya dengan memahami alasan yang mendasari kemunculan negaranya. Sikap-sikap seperti ini hanya akan mengantarkan rakyat yang diklaim dan mengklaim sebagai bagian dari negara tersebut menuju kehancuran. Dekadensi menuju kehancuran yang paling mudah terlihat adalah dengan membandingkan semangat antara generasi pejuang kemerdekaan suatu negara dengan generasi penikmat kemerdekaannya.

Kehancuran tersebut sebagian besarnya disebabkan rakyat dari negara tersebut hanya memiliki apa yang disebut Freire (1968) sebagai ‘kesadaran semu’. Dalam arti, kehadiran negara yang sifatnya given di dalam kehidupan kita yang sejak lahir sudah berada di dalam naungan sebuah negara, seringkali hanya menempatkan kita sebagai warga negara di posisi sebagai penuntut dan penonton. Disitulah letak kesadaran semu yang dimaksudkan oleh Freire.

             Dalam hal berdirinya negara
Indonesia sendiri, alasan mendasarnya sudah lama tertuang di dalam pembukaan UUD 1945 di paragraf ke tiga. Yaitu, “ Atas berkat rahmat Allah…dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas…”. Akan tetapi, berapa banyak warga negara
Indonesia sendiri yang memiliki kesadaran penuh terhadap esensi dari pernyataan tersebut baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain. Bahwa, setelah merdeka, kita sejak masih SD selalu diminta mengulang dan mendengar kembali isi pernyataan tersebut di setiap upacara Senin yang membosankan dan melelahkan, tapi tidak berbekas banyak bahkan mungkin hilang setelah kita dewasa. Itulah kesadaran semu.

            Setelah memahami alasan mendasar eksistensi sebuah negara, khususnya
Indonesia, alasan tersebut diperkuat dengan menetapkan tujuan eksistensinya yang jelas. Tujuan itupun sudah tertuang di dalam pembukaan UUD 1945 paragraf ke empat. Yaitu ‘melindungi segenap bangsa
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”. Ketiga tujuan tersebut diangkat dalam ranah politik-keamanan, sosial-ekonomi dan pendidikan-budaya”. Tapi, Lagi-lagi, masihkah kita sebagai warga negara
Indonesia pasca kemerdekaan, memiliki kesadaran penuh terhadap tujuan tersebut. Jika dibilang tidak berbekas banyak, alih-alih menyebutnya hilang. Itulah kesadaran semu.   

 

B.        Eksistensi Negara Dalam Perspektif Islam            Sebetulnya, tidak ada yang disebut negara dalam Islam. Karena negara muncul dari kondisi pergolakan di berbagai belahan dunia dalam sejarah. Dalam arti, dulu kita mengenal konsep imperium, lalu mengecil menjadi dinasti kerajaan atau dinasti kekhalifahan, dan mengecil lagi hingga menjadi apa yang dinamakan negara. Sementara, yang dikenal dalam Islam adalah pemerintahan, dengan ummat sebagai masyarakatnya.             Perbedaan keduanya amat jelas. Jika sebuah negara melakukan intervensi terhadap negara lain, maka bisa saja negara tersebut dituduh hendak menginvasi, mengakuisisi, pendudukan dan sejumlah istilah lainnya. Tapi, jika suatu pemerintah melakukan intervensi terhadap pemerintah lain, maka tidak dapat dituduh menginvasi atau mengakuisisi, yang ada hanyalah kontrol kekuasaan.             Jika Anda mengamati sejarah peperangan umat Islam pada masa Nabi dan sahabat berikut dampaknya terhadap perluasan wilayahnya, apakah itu disebut sebagai invasi, pendudukan atau kontrol kekuasaan. Dalam berbagai catatan sejarah ulama terdahulu, tidak satu pun ditemukan catatan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat pernah mendeklarasikan sebuah negara, mereka membiarkan daerah tersebut sebagaimana aslinya, yaitu kota Syam, Syria, Mekah dan lainnya.Yang mereka lakukan setelah (katakan: menguasai) hanyalah mengendalikan ummatnya yang berada di masing-masing kota tersebut untuk senantiasa menegakkan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, baik dalam ibadah maupun muamalah, selesai. Itulah alasan mendasar adanya pemerintahan dalam Islam yang diemban oleh Nabi dan para sahabat ketika menjadi khalifah, terkait dengan tujuan yang sudah ditetapkan oleh penguasa langit dan bumi, yaitu beribadah kepada-Nya. Adapun fakta bahwa saat ini terdapat ratusan wilayah berstatus negara, boleh dibilang, itu merupakan efek kupu-kupu (butterfly effect atau dikenal juga dengan teori kekacauan) dari politik pecah-belah yang dilakukan berabad-abad lampau setelah keruntuhan Turki Usmani, yaitu memecah belah ummat.  

C.        Peran dan Tanggung Jawab Pemerintah Dalam Kajian Ekonomi Islam            Ibnu Taimiyah sebagai seorang pemikir muslim yang luas ilmunya sudah lama merumuskan peran dan tanggung jawab pemerintah. Perumusan itu dibuat berdasarkan catatan peninggalan dari ulama-ulama sebelumnya perihal praktik pemerintahan sejak Nabi Muhammad hingga khalifah-khalifah terdahulu dalam sebuah buku yang terjemahan versi Indonesianya dimaknai sebagai ”Tanggung Jawab Negara Dalam Islam”. Dalam buku tersebut, ia menekankan bahwa pemerintah, yang tercermin dari khalifah dan setiap satuan aparat yang dipilihnya, merupakan pihak yang ditunjuk oleh ummat untuk melindungi ummat dalam kaitannya dengan penciptaan kemaslahatan di wilayah tersebut.             Dalam kaitannya dengan implementasi praktik maqoshid syariah yang berhubungan dengan aktifitas muamalah. Maka, keberadaan sebuah institusi pengawas dan pelindung (yang disebut dengan Al-Hisbah) dari model pengawasan yang sebelumnya bersifat sukarela, menjadi diperlukan. Pertimbangan Ibnu Taimiyah untuk menginstitusikan pengawas tersebut menjadi sebuah lembaga resmi disebabkan oleh kesulitan para Qadi (hakim di pasar) untuk mengawasi langsung berbagai situasi di pasar yang semakin bertambah banyak dan kompleks seiring meluasnya wilayah kekuasaan Islam.             Dengan keberadaan Al-Hisbah tersebut, pengawasan dan perlindungan langsung terhadap berbagai pihak yang terlibat dalam aktifitas muamalah seperti perdagangan dan jual-beli dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga memudahkan dan mengamankan akses konsumsi, produksi dan distribusi barang dan jasa di pasar dari hal-hal yang dilarang dalam Islam sebagaimana yang sudah diterangkan di dalam Qur’an dan Sunnah.             Selain itu, sebagian warisan pemikiran Al-Ghazali tentang pentingnya memelihara moral dan akhlak dari masing-masing individu muslim turut mendorong kemudahan implementasi pengawasan dan perlindungan yang dilakukan lembaga Al-Hisbah tersebut. Sehingga, nyaris dapat dikatakan tidak perlu membuat peraturan yang banyak untuk mengatur bagaimana setiap orang harus berlaku dalam aktifitas muamalahnya, karena sebagian besar orang boleh dikata memiliki kesadaran penuh untuk menjalankannya sesuai ajaran Islam. Kecuali untuk beberapa kasus yang mungkin baru ditemukan pada masa itu, sehingga perlu ada ijtihad dan keputusan peraturan mengenai hal tersebut, itupun juga dalam kerangka maslahat yang masih sejalan dengan maqoshid syariah.             Dengan dukungan akhlak yang bersifat endogenous di dalam diri sebagian orang tersebut, nyaris tidak diperlukan ketetapan mengenai harga yang adil. Kecuali pada beberapa kasus tertentu yang memang mau tidak mau harus ditetapkan oleh pemerintah demi menjamin kemaslahatan dan maqoshid syariah.

Dari ilustrasi di atas kita dapat mengkaji bagaimana peran dan tanggung jawab pemerintah bila dilihat dari kacamata ekonomi Islam di masa Ibnu Taimiyah secara umum. Sekarang, pertanyaannya adalah bagaimana praktik dari peran dan tanggung jawab pemerintah di masa Ibnu Taimiyah tersebut dapat diaplikasikan di masa sekarang.

Ditulis dalam ekonomi-politik Islam | Leave a Comment »

MEMAHAMI PERKEMBANGBIAKAN TERORISME (Proses, analisa dan solusi alternatif)

Ditulis oleh toni di/pada 72007vUTC03bUTCSun, 04 Mar 2007 23:49:24 +0000 7, 2006

            Seperti halnya organisme, terorisme pun harus berkembang biak untuk tetap bertahan hidup. Pernyataan ini bukan berarti saya setuju dengan terorisme. Namun, hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa hidup dan mati suatu spesies (manusia, hewan dan tumbuhan) ditentukan dari kemampuannya untuk berkembang biak.

                Dengan memahami metode dasar perkembang biakan, yaitu generatif dan vegetatif, kita bisa menganalisa perkembangan terorisme itu sendiri. Sederhananya, untuk mempertahankan suatu keberadaan, organisme bersel tunggal akan membelah diri dari satu kelompok besar menjadi dua kelompok yang lebih kecil, lalu membelah diri lagi menjadi empat kelompok yang lebih kecil dan seterusnya sesuai deret ukur. Begitu pula terorisme menyebar dan berkembang biak.

            Bagaimana pun, dalam hukum alam berlaku prinsip keseimbangan. Aksi pengejaran dan upaya penangkapan terhadap sejumlah aktor teroris seperti dr. Azahari (alm) maupun Noordin M. Top yang dilakukan jajaran kepolisian, khususnya melalui detasemen 88 bisa diduga akan menghasilkan reaksi balik dari kelompok terorisme itu sendiri cepat atau lambat dengan berkembang biak sebagai upaya pertahanan terkuat sepanjang masa. Sebagaimana pepatah mengatakan “Mati satu, tumbuh seribu”.

 

           Dengan memahami hal tersebut di atas, walau pun kepolisan RI tetap diberi bantuan militer dari negara-negara asing untuk menghabisi terorisme sampai ke akar-akarnya, kita bisa berasumsi bahwa terorisme itu sendiri tidak akan musnah dengan cara-cara militer seperti kontra-terorisme. Bahkan membuka kemungkinan menambah daftar kelompok teroris baru dengan motif-motif yang tidak selalu sama dengan pendahulunya.

             Dalam hal ini, strategi “tangkap jendralnya, musuh akan takluk dengan sendirinya” tidak berlaku. Kita tidak sedang berhadapan dengan satu kelompok teroris, melainkan dengan jaringan terorisme. Itu berarti bahwa dr. Azahari dan kelompoknya hanya salah satu komponen dari struktur dan sistem jaringan terorisme internasional.

             Bahkan dalam pandangan penulis secara pribadi,
Indonesia saat ini tidak lebih dari arena eksperimen perang untuk kedua kalinya. Jika yang pertama adalah arena perang ideologi Kapitalisme dan Komunisme pada masa perang dingin. Kali ini arena perang terorisme dan kontra-terorisme. Bahkan teori domino yang dominan dalam perang dingin boleh di bilang berlaku kembali dengan pelaku dan arena yang boleh jadi berbeda melihat peta persebaran terorisme.

Setiap hasil dari eksperimen tersebut dilaporkan kepada masing-masing pemberi bantuan kedua belah pihak di luar negeri. Pemberi bantuan menerima laporan dan mengkajinya secara seksama, bila puas, bantuan akan diteruskan bahkan ditingkatkan. Pemberi bantuan tidak perlu bersusah payah terjun ke lapangan sendiri karena sudah ada negara yang bersedia menjadi relawan untuk dijadikan arena eksperimen sekaligus memberi perlindungan kekuasaan bagi pemberi bantuan. Sekali pun kerjasama yang muncul tampak menguntungkan kedua belah pihak, secara tak sadar kita dibuat melayani kepentingan utama pemberi bantuan. Baik warga
Indonesia yang terpikat dengan gerakan terorisme maupun kepolisian RI yang banyak disokong oleh AS untuk menghabisi terorisme.

Bila hal ini berkepanjangan, boleh jadi dalam kurun waktu tertentu, teror bukan lagi dilakukan oleh kelompok terorisme itu sendiri, melainkan oleh negara itu sendiri kepada warganya dalam bentuk teror negara (negara vis-à-vis rakyat). Hal ini yang harus lebih diwaspadai. Keinginan pemerintah AS kepada kongres AS pasca 9/11 untuk memasang kamera pengintai di setiap sudut ruang publik masyarakatnya sudah bisa mengindikasikan teror negara dalam bentuk minimal. Di Indonesia, OYK (operasi yustisi kependudukan) yang dilakukan aparat terhadap warga di sejumlah daerah di Jakarta pasca lebaran tahun 2005 lalu ini menemukan momentum tepat untuk sekaligus mencari orang-orang yang terlibat kegiatan terorisme seperti yang dilansir KOMPAS (28/11/05), sebuah momentum tepat untuk melancarkan teror negara.      

Ajakan Presiden SBY kepada tokoh agama dan pendidikan agama untuk memberikan pendidikan dan pemahaman agama yang mencerahkan ketika berkunjung ke
Pakistan baru-baru ini merupakan awal yang baik untuk mengatasi persoalan terorisme dengan cara-cara nirkekerasan (non-violence action). Namun, dalam skala 1-10, penulis baru mampu memberi nilai 3. Skala tersebut baru akan naik menjadi 5 jika ajakan tersebut bisa dilaksanakan oleh para tokoh agama dan pendidikan agama. Untuk dapat beranjak ke skala 6-10, harus ditindaklanjuti dengan sejumlah tindakan nyata dari pemerintah sendiri untuk mengatasi masalah yang ada pada dirinya.

 

                 Kita lebih mudah melihat musuh sebagai yang “di luar” diri kita. Namun, kita jarang bahkan tidak pernah bisa dan berani melihat musuh yang “di dalam” diri. Jika Osama disebut sebagai teroris, apa yang menjadikannya seperti itu? Padahal sebelumnya ia di eluk-elukan baik oleh AS maupun pemerintah Saudi sendiri sebagai pahlawan perang Afghan melawan Uni Soviet pada tahun 1980-an.

             Teka-teki awal terjawab setelah Osama pulang kembali ke Saudi dari perang
Afghanistan. Ia kecewa dengan keluarga kerajaan yang dinilainya sudah menyelewengkan kekuasaan, dengan kata lain sudah menjadi pemerintahan yang korup, belum terhitung dengan mudahnya peredaran minuman keras dan wanita-wanita penghibur di kelab-kelab malam mau pun hotel di
sana. Ditambah dengan semakin lemahnya harga diri negara Saudi terhadap bantuan asing yang berdampak terhadap masuknya pengaruh-pengaruh budaya asing ke dalam masyarakat Islam di
sana. Oleh karena Osama tidak mungkin melakukan revolusi berdarah terhadap keluarga kerajaan. Kemungkinan terbesar, ia memfokuskan serangan pada negara yang menjadi sumber penyakitnya, yaitu AS.

Secara kontekstual, dominasi masyarakat Arab Saudi dan
Indonesia adalah muslim. Terlebih lagi
Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia. Akan tetapi, adalah ironi bahwa masyarakat muslimnya sendiri sudah bergeser dari nilai-nilai ajaran Islam. Dengan alasan kekecewaan yang nyaris mirip dengan Osama (pemerintahan yang korup, ‘legalisasi’ perdagangan minuman keras, judi, pornografi dan tempat-tempat pelacuran oleh pejabat-pejabat korup, serta lemah terhadap utang dan bantuan asing) dengan sukses memunculkan orang-orang seperti Hambali,  Imam Samudra, dr. Azahari dan lainnya(?) Mereka sukses mewakili orang-orang muslim yang tak berdaya dan lemah terhadap keadaan ini untuk melawan orang-orang yang menyukai keadaan seperti ini. Maka, seperti yang telah  terjadi, aksi-aksi bom bunuh diri melibatkan tempat-tempat yang boleh dibilang akrab dengan kemaksiatan atau pun sumber kemaksiatan, sekalipun terdapat orang Islam yang menjadi korbannya. Hal ini sekaligus menjadi travel warning buat yang beragama Islam, jangan berkunjung ke tempat-tempat yang demikian jika tidak ingin menjadi ‘korban kebetulan’ berikutnya.

Dengan berefleksi terhadap kondisi internal bangsa ini, apakah penanganan terorisme masih mau dilakukan pemerintah dengan cara counter-terrorism? Melihat implikasinya terhadap perkembangbiakan terorisme itu sendiri. Tidak lebih penting berdebat apakah
Indonesia kemudian harus menjadi negara Islam atau tidak. Yang lebih penting adalah menghentikan sumber-sumber perusak masyarakat dan harga diri bangsa, itu yang harus diselesaikan terlebih dulu jika ingin
Indonesia aman.

Cara-cara nirkekerasan memang akan merugikan dari sisi kepentingan bisnis dan penerimaan negara, khususnya dari sektor bisnis haram, tapi tidak merugikan untuk keamanan publik. Dengan menindak tegas aparat pemerintah yang korup dan mengubah sistem birokrasi yang korup, pelaku bisnis yang melakukan praktik bisnis tersebut di atas berikut oknum pelindungnya serta menolak penerimaan utang dan bantuan asing baru yang justru semakin menambah dalam lubang utang luar negeri dan menurunkan harga diri bangsa untuk terus ketergantungan. Jika hal ini dapat dilakukan, tidak ada teroris dan pihak asing yang dapat dengan mudah mengobok-obok Indonesia sebagai arena eksperimen perang dan adu domba lagi. Kecuali bila Indonesia memang senang menjadi kelinci percobaan, ceritanya jadi lain. 

Ditulis dalam ekonomi-politik Islam | Leave a Comment »

mencari obat modernitas

Ditulis oleh toni di/pada 72007vUTC03bUTCSun, 04 Mar 2007 23:41:51 +0000 7, 2006

Ilmu pengetahuan, bisnis, politik, semakin kehilangan semua dasar-dasar ukuran perikemanusiaan. Manusia zaman kini, atau tepatnya kita, lebih banyak hidup dan bicara dalam dimensi angka dan abstraksi. Dimensi-dimensi itu jauh diluar batas-batas yang memungkinkan pengalaman konkret apapun. Tak ada lagi yang konkret, tak ada lagi yang nyata. Teori-teori ekonomi bicara dalam model dan asumsi, teori-teori politik bicara dalam konsep dan tatanan, dan teori-teori pengetahuan pun tak ubahnya bermain filsafat dan logika pemikiran dalam wujud abstraksi. Tak ada ada lagi kerangka acuan yang dapat diatur, diamati, disesuaikan dengan dimensi-dimensi manusiawi. Sehingga konsep kita tentang dunia telah kehilangan kualitasnya, jati dirinya, hakikatnya. Manusia telah terlempar dari tempatnya yang mapan sebagai khalifahtul fil ardh, dari tempat ia mengawasi dan mengatur hidupnya dan masyarakatnya. Ia semakin lama semakin dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang pada mulanya ia ciptakan ataupun diproduksinya sendiri. Dalam kebingungan yang tak menentu ini ia berpikir, membuat angka-angka, sibuk dengan abstraksi-abstraksi yang makin jauh dari kehidupan konkret.[1]  Di masa lampau, orang-orang dengan tangannya, memproduksi barang-barang untuk kelompok pembeli dan pelanggan yang relatif kecil dan dikenal. Harga barang produksinya ditentukan oleh kebutuhan membuat keuntungan yang memungkinkannya hidup dalam gaya yang secara tradisional sepadan dengan status sosialnya. Dari pengalaman ia mengetahui berapa biaya produksinya. Sekalipun ia mempekerjakan beberapa orang, tak ada sistem terperinci tentang tata buku ataupun neraca sebagai metode abstrak perhitungan yang diperlukan untuk operasi bisnisnya. Sehingga pembayaran relatif disesuaikan dengan kesepakatan setiap pihak yang terlibat di dalam pekerjaan produksi tersebut. Sebaliknya, pada bisnis perusahaan modern, tidak dapat mengandalkan diri pada pengamatan langsung dan konkret guna menghitung keuntungannya. Biaya bahan mentah, mesin-mesin, pekerja, maupun biaya produksi cenderung dapat dan hanya dapat diungkapkan dalam persamaan neraca dan perbandingan yang tepat dalam proses-proses ekonomi yang dihitung dalam angka-angka satuan uang. Sehingga memberi penjelasan kepada manajer apakah dan sampai tingkat mana ia disibukkan dengan keuntungan, yang menunjukkan suatu aktivitas bisnis yang berarti. Perubahan dari perhitungan konkret menjadi abstrak ini telah berkembang jauh melewati neraca dan kuantifikasi kegiatan ekonomi dalam proses produksi perusahaan modern. Para pelaku bisnisnya tidak hanya disibukkan dengan uang jutaan ataupun milyaran bahkan triliunan rupiah, dolar ataupun yen, tetapi juga dengan jutaan pembeli, ribuan pemegang saham, serta ratusan bahkan ribuan pekerja dan pegawai. Semua orang tersebut dan mungkin termasuk kita,  seakan menjadi onderdil-onderdil yang begitu banyak dari suatu mesin raksasa yang harus senantiasa dikontrol, yang efeknya juga harus diperhatikan, membuat setiap orang pada akhirnya dapat disebut sebagai entitas abstrak, dalam satuan angka-angka, dan atas dasar kegiatan ekonomi hal ini menjadi dapat dihitung, kecenderungan-kecenderungan dapat diramalkan dan keputusan-keputusan perusahaan dapat dibuat. Jelaslah bahwa tanpa kuantifikasi dan abstraktifikasi, produksi massa modern tak dapat dipertimbangkan. Selain membentuk konsep-konsep yang abstrak dan berguna, abstraksi memang menunjukkan kemampuan perkembangan ilmu pengetahuan, dan melepaskan abstraksi-abstraksi berarti seolah kembali kepada cara berpikir primitif. Namun, dalam suatu masyarakat dimana aktivitas ekonomi telah menjadi pergumulan pokok manusia. Proses kuantifikasi dan abstraktifikasi telah melebihi bidang produksi ekonomi, dan mengembangkan sikap manusia terhadap benda-benda, orang lain dan dirinya sendiri. Ketika segala sesuatu, termasuk diri kita, sedang diabstraksikan; realitas konkret dari orang-orang dan benda-benda, digantikan tempatnya oleh abstraksi-abstraksi, oleh hantu-hantu cermin kepribadian yang berbeda secara kuantitas, tetapi tidak berbeda secara kualitas. ”Sebuah mobil 1 milyar”, ”jam tangan 50 ribu” ataupun ”baju 200 ribu” menunjukkan tidak saja sudut pandang pengusaha atapun konsumen ketika membelinya, tetapi juga menunjukkan segi mendasar dalam menggambarkan barang itu sendiri. Dalam hal ini, ketika orang membicarakan mobil seharga 1 milyar, ataupun baju seharga 200 ribu, ia tidak terlalu perhatian dengan kegunaan ataupun keindahannya, sebagai sifat-sifat yang konkret pada benda tersebut. Tetapi orang membicarakan benda-benda tersebut sebagai komoditas, yang kualitasnya utamanya adalah dapat dipertukarkan dan dicerminkan dalam suatu kuantitas, yakni uang. Ketika abstraksi ini sudah menyentuh realitas seorang manusia untuk dikuantifikasi, menjadikan manusia itu sendiri sebagai sebuah komoditas baru. Yang esensi dirinya dapat diungkap dengan angka-angka ketimbang perwujudan totalitas kemanusiaan dari orang tersebut.     Kenyataan yang tidak boleh dilupakan bahwa di masa lampau, pertukaran senantiasa melebihi satu macam barang dan jasa; sekarang, semua pekerjaan dinilai dengan uang. Struktur yang terbentuk di dalam hubungan-hubungan ekonomi modern pun diatur dengan uang, yang menjadi ekspresi abstrak dari kerja. Yang artinya, kita menerima kuantitas yang berbeda dari barang yang sama untuk kualitas yang berbeda. Yakni, hal yang sesungguhnya terjadi hanyalah pergantian antara posisi kita pada suatu waktu sebagai pihak yang memproduksi suatu barang dan mendapat bayaran atasnya dengan posisi kita pada suatu waktu yang lain sebagai pihak yang mengkonsumsi barang tersebut dimana kita memberikan uang sebagai ganti dari apa yang kita terima. Praktisnya, di zaman modern ini hampir tak ada orang, kecuali petani yang menyimpan sebagian padinya untuk dimakan sendiri, dapat hidup untuk beberapa hari saja tanpa menerima dan membelanjakan uang, sebagai aktivitas yang mempertahankan kualitas abstrak dari kerja konkret kita.Sikap religius manusia terhadap kerja sebagai kewajiban yang begitu mewarnai di abad 19 ataupun di abad kejayaan Islam masa lalu, telah berubah dalam dekade-dekade terakhir ini. Manusia modern semakin tidak tahu apa yang harus ia perbuat dengan dirinya sendiri, bagaimana menghabiskan waktu hidupnya secara bermakna selain daripada sekedar mengkonsumsi barang dan jasa material untuk kepuasannya, dan ia terdorong bekerja sekeras-kerasnya, hanya agar ia terhindar dari rasa bosan yang tak tertahankan. Dan itulah awal sekaligus akhir dari nihilitas hilangnya dasar-dasar perikemanusiaan dalam diri kita. Menjadi manusia yang bukan manusia!  Sehingga, tidak mengherankan jikalau kemudian manusia modern memiliki rasa haus yang teramat sangat akan pencarian makna spiritual yang memuaskan dahaganya selama ini. Sebuah pencarian yang boleh jadi teramat panjang bagi mereka yang tidak punya pedoman, namun bisa menjadi singkat bagi mereka yang mau mencari ke dalam jati dirinya sendiri dengan pedoman yang di miliki, khususnya dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.


[1] Erich Fromm (1995) “Masyarakat Yang Sehat”

Ditulis dalam Cerita hikmah | Leave a Comment »

Inovasi Dimulai dari Hikmah

Ditulis oleh toni di/pada 12007vUTC02bUTCMon, 19 Feb 2007 11:38:25 +0000 7, 2006

Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Hikmah adalah mutiara umatku yang terpendam, galilah ia di mana pun kamu temukan”

(HR. Tirmidzi).

 

            Hikmah, dalam keseharian kita, umumnya melekat dalam pembicaraan atau obrolan yang berkenaan dengan suatu musibah. Musibah itu bisa berupa kecopetan, sanak famili meninggal, hingga musibah yang dianggap luar biasa semisal gempa, banjir dan lainnya. Adapun umumnya juga, pembicaraan itu sering kali berujung pada perkataan “yaa..mungkin ada hikmahnya di balik ini”, selesai! Coba simak ucapan ini bila ada rekan kerja atau teman sejawat Anda yang sedang mengobrol tentang suatu kejadian yang dianggap musibah. Hampir sebagian besar, hikmah hanya kita gunakan sebatas upaya menghibur hati, tapi tidak kita berupaya menggali betul hikmah yang sudah ditemukan tersebut.

 

             Hikmah, jika merujuk pada maknanya dalam bahasa Arab, bisa berarti kebijaksanaan atau pengetahuan yang terperinci. Definisi dari hikmah ini dapat pula disetarakan dengan wisdom atau insight dalam bahasa Inggris. Dan seseorang, ketika sudah sampai ke tingkatan wisdom atau insight, ia akan memunculkan suatu pandangan baru yang mencerahkan orientasi hidupnya maupun orang lain. Pada momen-momen semacam ini, lahirlah pemikiran baru atau yang bisa kita sebut dengan inovasi. Bilamana inovasi tersebut di aktualisasikan dalam konsep pemikiran, maka jadilah ia teori baru. Bila di aktualisasikan dalam bentuk barang dan jasa, maka jadilah ia produk dan jasa yang inovatif. Karena, hal ini tidak saja mencerminkan sisi Know-How dari orang tersebut, tetapi juga sisi Know-Why, yang berperan besar dalam menciptakan inovasi.

 

            Inovasi, dalam konteks kekinian menempati peran sentral dalam mendorong kemajuan bisnis dan ekonomi suatu perusahaan atau bangsa. Inovasi juga menjadi parameter yang menentukan, apakah suatu perusahaan atau bangsa mampu tumbuh dan berkembang di era persaingan yang semakin kompetitif di masa kini dan mendatang. Hal ini sudah diterima oleh sebagian besar pelaku bisnis sebagai keyakinan umum. Michael Porter menyebutkan bahwa sumber-sumber paling penting yang berkontribusi terhadap kemakmuran bukanlah faktor-faktor warisan (inheritance), tetapi diciptakan (created). Kemakmuran tersebut ditentukan oleh tingginya daya saing sebagai akibat tingginya kapasitas inovasi. Jadi, dapat dikatakan bahwa daya saing suatu industri di suatu daerah atau bangsa berkaitan langsung dengan kapasitas inovasinya.

 

            Terkait dengan kapasitas inovasi pada perusahaan syariah, pertanyaan yang muncul kemudian adalah, basis metode inovasi yang bagaimanakah yang diterapkan oleh perusahaan syariah sejauh ini dalam mengembangkan produk dan jasa layanannya? Karena, sebagaimana diketahui bahwa sejumlah usulan produk dan jasa inovatif yang dihasilkan oleh perusahaan syariah sejauh ini sering terkendala oleh aspek kesesuaian dengan syariah ketika usulan tersebut dibawa ke dewan penasihat syariah.

 

Jika sudah seperti ini masalahnya, mengapa tidak mencoba untuk mengganti basis metode inovasi konvensional yang dipraktikkan selama ini dengan metode inovasi yang didasarkan pada hikmah. Karena selain cepat ditemukan dalam keseharian kita, hikmah sesungguhnya mengajak siapa pun yang merenungi dan menggalinya untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Sehingga, produk dan jasa inovatif yang diusulkan pun insya Allah berada dalam arahan dan koridor mengajak konsumen atau user untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah. Yang hal ini tercermin dari terpenuhinya maqoshid (tujuan) syariah dan maslahat pada diri kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen. Insya Allah, kendala di atas dapat di atasi dengan cepat. Selain itu, hikmah tidak dapat begitu saja dipahami oleh orang-orang yang jauh dari Allah, sekalipun mereka dapat mempraktikkannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Saw dalam hadits tersebut di awal tulisan ini. Sehingga, hikmah dengan sendirinya merupakan metode yang unik dan khas untuk diterapkan oleh perusahaan-perusahaan syariah.

 

            Sebagai ilustrasi inovasi yang berangkat dari hikmah, kita dapat mengambil contoh dari tindakan para pelaku bom Bali. Terlepas dari pro-kontra yang melingkupinya, tindakan Amrozi dkk sesungguhnya menjadi hikmah yang dapat digali oleh praktisi pemasaran syariah untuk menghasilkan inovasi dalam praktik pemasaran. Jika Amrozi dkk dipandang sebagai konsumen, mungkin kita bisa bertanya-tanya. Seperti apakah sistem edukasi konsumen yang dijalani oleh Amrozi dkk sehingga menjadi konsumen yang loyalis dan bahkan berani membela produk yang dikonsumsinya. Apakah karena Brand Islam-nya? Rasanya kurang tepat. Apakah karena iming-iming material? Jawaban yang diberikan Amrozi bukan soal benefit harta. Hikmah tersebut digali terus secara mendalam, sehingga sampai pada kesimpulan, bagaimana bila sistem edukasi yang dijalani oleh Amrozi dkk dapat dipraktikkan oleh perusahaan untuk membentuk konsumen yang loyal. Dari sini, muncullah inovasi pemasaran baru.

 

            Ilustrasi hikmah yang dapat menjadi inovasi yang lain lagi dapat kita ambil dari musibah banjir yang melanda Jakarta baru-baru ini, terlebih pada apartemen-apartemen yang basement-nya terendam air. Sebagaimana telah diketahui, nyaris tidak ada lagi lahan yang dapat ditanam di Jakarta ini karena sudah berganti dengan tiang-tiang beton. Jika bagian basement paling bawah dari setiap gedung perkantoran, apartemen dan mall ini diubah menjadi lahan pertanian tentu dapat membuka lahan kerja baru bagi sebagian besar warga di Jakarta. Adapun jenis tanaman yang ditanami adalah tanaman yang dibutuhkan untuk diolah menjadi Bio-ethanol, tetapi bukan tanaman jarak ataupun kelapa sawit, melainkan jagung dan ubi kayu serta mungkin juga padi, karena ketiganya mengandung glukosa (C6H12O6) yang dapat di ubah menjadi ethanol (C2H5OH) sebagaimana dapat di tunjukkan dalam persamaan reaksi kimia berikut : C6H12O6 è 2C2H5OH + 2CO2

 

Dalam hal ini, pihak perbankan syariah dapat membuat kontrak muzaro’ah dengan pengusaha yang mau membuka lahan pertanian di lantai-lantai basement tersebut dan juga dengan pemilik apartemen, kantor dan pertokoan yang lantai basement-nya hendak dimanfaatkan untuk lahan pertanian tanaman Bio-ethanol.

 

Manfaatnya adalah, selain dana di bank mengalir ke sektor riil, sebagian warga miskin di Jakarta memperoleh kesempatan kerja baru dengan adanya model pertanian kota. Perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya dapat memperoleh obyek riset multidisiplin yang dekat lokasinya. Pihak asuransi syariah dapat meng-cover bila terjadi kegagalan panen. Lembaga Zakat dapat mengetrapkan zakat pertanian. Dan, secara ekologi, model pertanian kota bawah tanah berperan dalam menciptakan reservasi air tanah bagi wilayah Jakarta. Selain itu, keuntungan yang di dapat pun jelas dan halal bagi setiap pihak yang terlibat karena hasil olahannya digunakan sebagai campuran bahan bakar yang dibutuhkan oleh setiap industri dan rumah tangga. Serta, hasil zakatnya dapat digunakan untuk menyuplai kebutuhan pangan masyarakat kurang mampu di Jakarta. Inilah dimensi maqoshid dan maslahat yang tercermin bilamana sebuah hikmah digali.

 Sehingga hikmah, bila ditarik relevansinya dengan dunia ekonomi dan bisnis, menjadi referensi inovasi bagi siapa pun yang tak ada habisnya. Karena hikmah selalu hadir dalam keseharian kita, seiring musibah yang kita dengar atau rasakan dan alami sehari-hari. Sehingga, nyatalah maksud Nabi Saw dengan menyebutkan hikmah sebagai mutiara. Karena hikmah yang digali betul-betul dapat menjadi sumber kekayaan baru bagi penemu dan penggalinya. Selain itu, Allah Ta’ala juga sudah mengafirmasi hal ini sebanyak dua kali di dalam Q.S Al-Insyirah ayat 5 dan 6: “Sesungguhnya bersama kesusahan terdapat kemudahan (5). dan sesungguhnya bersama kesusahan terdapat kemudahan (6)”. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi perusahaan-perusahaan syariah untuk kembali meyakini dan  mempraktikkan hikmah yang diajarkan Nabi SAW tersebut guna menjadi perusahaan yang unggul di era persaingan yang tinggi seperti sekarang. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa, inovasi dimulai dari hikmah.

Ditulis dalam inovasi | Leave a Comment »

teknopreneur, Apaan tuh ?

Ditulis oleh toni di/pada 42007vUTC02bUTCThu, 15 Feb 2007 11:27:36 +0000 7, 2006

Teknopreneur, Apaan tuh ?

Saat membaca kata teknopreneur, kemungkinan besar pikiran kita akan tertuju pada dua hal, teknologi dan entrepreneurship atau kewirausahaan.
Ya, teknopreneur memang didefinisikan sebagai entrepreneur yang mengoptimalkan segenap potensi teknologi yang ada sebagai basis pengembangan bisnis yang dijalankannya.
namun, permasalahan mendasarnya, teknopreneur sendiri merupakan istilah yang masih asing di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. – kecuali bagi mereka yang terus mengikuti segenap perkembangan bisnis dunia-.
selain itu, bagi mereka yang sudah mengenalnya pun masih ada yang salah kaprah memahaminya sebagai IT entrepreneur. well, it depend on which side you look at it.

Penulis sendiri pertama kali mendengar dan mengetahui teknopreneur ini ketika masih kuliah di semester 7 di Fisipol UGM. Berbekal modal sebagai salah satu pemenang lomba inovasi mahasiswa yang diselenggarakan UGM sejak tahun 2002, tim penulis berkesempatan untuk diundang menghadiri berbagai seminar dan workshop entrepreneur secara gratis yang diselenggarakan UGM, dengan mendatangkan entrepeneur dari dalam dan luar negeri sebagai narasumber.

Karena, ternyata, disamping punya tujuan menjadi research university, UGM juga mulai mengejar peluang sebagai entrepreneur university. poin kedua inilah yang ternyata sayangnya tidak banyak diketahui publik di lingjkungan UGM sendiri.
Yah, itu sisi lain yang tidak perlu diributkan di sini. Yang pasti, pengalaman paling berkesan bagi penulis adalah ketika yang menjadi narasumbernya adalah seorang Profesor dari Delft University of Technology Belanda yang juga menjadi seorang entrepreneur. Karena dari beliaulah penulis mendapat pemahaman awal tentang teknopreneur, dan bagaimana aplikasinya di negara Belanda sana (tengah menuju 3rd generation techno-starter loh).

Mungkin ada yang heran dan bertanya-tanya, memang apa yang dibuat oleh anak fisipol yang konon bicara dan bacaannya kebanyakan soal politik ini dalam kaitannya dengan bidang teknologi, lebih-lebih teknopreneur. Aah…paling salah seorang anggota timnya ada yang anak teknik atau IT sehingga bisa buat produk berbau teknologi.
Well, not quite true…but, tim penulis semuanya benar-benar gak ada yang berasal dari fakultas teknik, apalagi cabutan dari jurusan IT. alias 90 % murni anak fisipol+ 10 % anak ekonomi dan pendidikan lain universitas untuk cabutannya.

Yang kami buat cuma sebuah jurnal digital berformat CD-ROM berbalut offline website dengan content bertemakan teknologi, dakwah dan pendidikan. Loh?? politiknya kemana? koq cuma dalam bentuk CD-ROM, Kenapa bukan internet? jawaban penulis sederhana, justru politik itu yang menjadi substansi dari wujud jurnal digital itu sendiri. Karena, kami berangkat dari pemahaman politik bahwa “whoever control over technology nowadays, they’ll control todays world, and that’s the politics”.

ada begitu banyak alasan yang melatari pandangan politik ini, sebutlah salah satunya masalah yang melingkupi proses alih teknologi yang lebih merupakan sebentuk penghisapan bangsa asing atas sumberdaya ekonomi tanah air.

adapun dimensi politik dari pilihan tema yang kami angkat, yaitu teknologi, dakwah dan pendidikan, karena kami ingin menyampaikan pada publik bahwa perkembangan teknologi, software dan hardwarenya bisa mendayagunakan segenap potensi anak bangsa untuk jadi lebih maju tanpa terlalu banyak tergantung dari luar, dan dakwah, untuk menunjukkan bahwa inilah cara kami menyampaikan pesan politik kami terhadap kecenderungan hari esok, bahwa siapa yang tidak bisa menguasai teknologi minimal untuk dirinya sendiri, ia akan dimanfaatkan oleh orang yang memiliki dan mengendalikan teknologi tersebut, setidaknya dalam bentuk harga yang mahal.

Serta pendidikan, karena kami mendapati bahwa masyarakat dunia saat ini tengah bertransisi dari masyarakat industri ke masyarakat pengetahuan. oleh karena itu, pendidikan menjadi bahan bakar utama untuk menjadikan setiap anak bangsa lebih berpengetahuan, pengetahuan untuk mengoptimalkan dan mendayagunakan segenap sumberdaya yang ada. Karenanya, jurnal digital ini di rancang sebagai basis referensi dalam kerangka pendidikan untuk mengoptimalkan segenap perkembangan teknologi saat ini sebagaimana telah disampaikan sebelumnya. 

Adapun mengapa bentuknya CD-ROM dan bukan internet berwujud online website misalnya, karena CD-ROM kami rasa saat ini lebih cocok menjadi teknologi tepat guna yang rendah biayanya, berkapasitas besar (650 Mb itu kira-kira bisa sama dengan seluruh isi perpustakaan sebuah universitas, dan bisa lebih) dan dapat menjembatani kesenjangan digital antar masyarakat di berbagai pulau di Indonesia, lebih-lebih daerah pedalaman.

Yah, Alhamdulillah jika saat ini sudah ada perusahaan telekomunikasi yang melakukan gerakan internet goes to school untuk sekolah-sekolah di berbagai daerah di tanah air. Tapi hal ini tetap tidak bisa mengatasi kesenjangan digital yang terjadi dalam waktu singkat. ibaratnya, anak bangsa ini langsung di ajarin buat pesawat dan bukannya mulai dari membuat sepeda, motor ataupun mobil. Dalam banyak kasus kesenjangan digital di tanah air ini, jangankan bisa menjelajah di internet. bisa menggunakan dan mengoperasikan komputer saja sudah syukur Alhamdulillah.

yah, memang tidak jarang kami mendapat kritik dari teman-teman kami, baik yang dikenal maupun tidak, yang berlatar belakang teknik dan web design terkait performa tampilan isinya maupun dari teman-teman yang berlatar belakang disiplin ilmu lainnya. 

yah, buat kami yang memang belum dan tidak begitu paham dunia teknologi, hal demikian justru menjadi ruang-ruang belajar yang lebih luas bagi kami untuk mengaitkan hubungan politik dan teknologi, sampai saat ini.

trus, apa hubungannya cerita politik di atas dengan teknopreneur ? bukannya teknopreneur itu bicara soal bisnis dan ekonomi terkait teknologi? well, again, it depend on which side you look at it.

Bagi penulis pribadi, apa yang sudah kami lakukan itu sendiri merupakan ciri seorang teknopreneur. Bayangkan, kami menggunakan teknologi untuk membuat produk teknologi dengan content dan tujuan sebagaimana telah disampaikan sebelumnya.

lalu, karena ini juga dakwah, berarti ada upaya penyebarluasan, dan pendidikan, dalam artian luas sebagai dasar pencapaian tujuan politiknya. dan karenanya, sebagian CD kami jual dalam sejumlah event dan sebagian lain kami beri gratis untuk menjalin kerjasama dan dukungan (ilmu, modal materi dan kebijakan) dari berbagai pihak di dalam dan luar negeri. bukankah hal ini sudah menunjukkan aplikasi bisnis dasar dari teknopreneur dunia? bukankah sekarang banyak bisnis yang menawarkan free trial sebelum melangkah ke aksi beli atau menjalin kerjasama. well, that’s how business going.

You cannot sell technology until your costumer feel its benefit and help much in doing their activity. bukankah untuk itu teknologi hadir?

sampai tahap tertentu, penulis jadi terpikir sebuah konsep ekonomi-politik teknologi untuk memahami tindakan yang kami lakukan. tapi, biarlah itu jadi bahasan topik yang lain lagi.
 
Dan, kembali ke bahasan awal kita tentang teknopreneur. jadi, siapa pun sebetulnya bisa menjadi teknopreneur. tanpa harus terjebak apakah teknopreneur itu IT entrepreneur ataukah lainnya.

Dengan kata lain, yang ingin penulis sampaikan adalah bahwa apapun teknologi yang kamu kuasai, kamu bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai untuk diapresiasi orang lain.

 dan juga, tergantung pada niatan awal, apakah sebagai teknopreneur, apa yang dijual tersebut mendorong kemajuan dan kemudahan bagi manusia ataukah menjadi sesuatu yang bersifat ‘waste resources just for hedonism pleasure’. well, it’s your choice.

Ditulis dalam IT & Da'wah | 2 Komentar »

Ciptakan saja pekerjaan yang kamu suka !

Ditulis oleh toni di/pada 42007vUTC02bUTCThu, 15 Feb 2007 11:17:25 +0000 7, 2006

Ciptakan Saja Jenis Pekerjaan Yang Kamu Suka !

Ya, judul di atas ini bermaksud mengajak untuk mengeksplorasi lebih dalam segenap kemampuan, potensi dan kesenangan atau kecenderungan minat yang dimiliki diri masing-masing.
bukan tidak mungkin, dari hasil perenungan penggalian hal-hal tersebut di atas. setiap diri kita bisa menciptakan jenis pekerjaan yang betul-betul kita suka dan cintai. baik itu bekerja pada orang lain (menginginkan keamanan dalam kerja) maupun bekerja untuk diri sendiri (menginginkan kebebasan dalam bekerja).
semoga tidak ada lagi alasan bahwa tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan latar belakangnya. karena pada dasarnya, banyak hal yang kita suka dapat menjadi lahan pekerjaan atau penghasilan yang menyenangkan.

Selain itu, kecenderungan bisnis ke depan adalah akan lebih banyak pekerjaan yang di outsourcingkan. sehingga memperbesar peluang untuk benar-benar menghasilkan uang dari aktifitas yang kita sukai. 

pertama-tama, ada baiknya kita buat dulu cluster (kelompok) besar minat/ preferensi yang dapat dijadikan ide awal untuk menciptakan pekerjaan yang kita suka. hal ini demi kemudahan kita untuk memetakan berbagai minat yang di miliki.

1.  Dunia Komunikasi
2.  Dunia Keagamaan dan Pelayanan Umat
3.  Dunia Perpolitikan
4.  Dunia Rumah dan perancangannya
5.  Dunia Kesehatan
6.  Dunia Busana
7.  Dunia Hiburan
8.  Dunia Pendidikan
9.  Dunia Citarasa

mungkin 9 kategoru minat ini cukup dulu, kali ya. Jika ada ide usulan atau tambahan, bisa di-share bareng lewat blog ini.
Ada kemungkinan, ketika membuat turunan jenis pekerjaan yang dapat dibuat dari masing-masing kategori, terdapat persilangan kategori untuk jenis pekerjaan yang sama. jika hal demikian yang terjadi, tidak ada penegasian, cukup mereferensi ke jenis pekerjaan yang sudah termuat di dalam kategori sebelumnya.

mari, kita mulai membuat turunan jenis pekerjaan yang dapat kita ciptakan sendiri.

1. Dunia Komunikasi. 
Dunia komunikasi merupakan dunia yang mewarnai segenap aktifitas kehidupan kita,  mulai dari obrolan, berita, hingga pemikiran dan ide.
   Oleh karena itu, dunia komunikasi menempati urutan awal. adapun jenis pekerjaan yang dapat kita ciptakan antara lain :
 

1).  Penyedia jasa layanan penjawab telepon.
       Deskripsi Kerja : aktifitas ini banyak berhubungan dengan front office di sebuah perusahaan. bagi anda yang memiliki minat atau kesenangan untuk berbicara lewat telepon dengan beragam orang dari berbagai kalangan, jenis pekerjaan ini sangat cocok untuk Anda. pekerjaan yang dilakukan adalah menerima dan menjawab telepon untuk keperluan bisnis atau para profesional, bisa sampai 24 jam sehari, 7 hari seminggu (termasuk hari libur jika perlu). juga termasuk kemampuan untuk secepatnya menandai para klien atau untuk memberi informasi yang dibutuhkan oleh si penelepon. Pada banyak kasus, Sejumlah besar perusahaan umumnya masih menggunakan jasa penjawab telepon ini dibanding menggunakan penjawab otomatis.        
Bisa saja Anda yang menawarkan diri untuk bekerja sebagai penjawab telepon tersebut. tapi, mengapa Anda tidak mencoba untuk menjadi penyalur para front officer profesional ke banyak perusahaan? seiring mulai banyak perusahaan yang mulai melakukan outsourcing terhadap sejumlah divisi kerjanya.

 Waktu Kerja : Jika Anda yang bekerja sebagai tenaga jasa penjawabl telepon, bisa saja Anda melakukan pekerjaan ini secara part-time atau memiliki waktu yang fleksibel, terkait shift kerja. Dan jika Anda yang memiliki usaha penyedia jasa ini, Anda bisa mengupah beberapa orang untuk membantu Anda dalam menjalankan usaha ini.
 

Persyaratan : Jika Anda yang bekerja ==> memiliki suara yang jelas dan bersih saat berbicara via telepon adalah keharusan. Dan akurat dalam memberikan informasi (semisal nama, nomor telepon) juga merupakan hal yang penting untuk dikuasai.
     Jika Anda yang memilki usaha ==> Anda bisa mengatur kesepakatan kontrak dengan tenaga jasa dan juga perusahaan yang membutuhkan jasa tersebut.

Kompensasi :

Jika Anda yang bekerja ==> Anda bisa dibayar sesuai kesepakatan kontrak dengan perusahaan.

 Jika Anda yang memiliki usaha ==>  anda bisa mengajukan bahwa sekian % dari bayaran yang diterima oleh si tenaga jasa yang anda salurkan dari perusahaan menjadi hak Anda. 
   
2.) Konsultan Audio Visual
Deskripsi Kerja : mungkin pekerjaan ini terdenagr baru bagi Anda. Hal itu karena di ranah outsourcing memang belum banyak pemainnya. pekerjaan yang dilakukan adalah memberi advis pada sebuah bisnis terkait penggunaan audio visual dalam menjual produk atau jasa mereka, mengumumkan lowongan kerja atau mengirimkan sebuah pesan penting tentang bisnis mereka dengan cara-cara yang menarik. 

mungkin lebih mudah dipahami dengan menyebut pekerjaan ini sebagai media planner atau perencana media. Jika dulu sebagian besar perusahaan memiliki media planner sendiri, seiring dengan perkembangan tuntutan efisiensi biaya dan efektifitas promosi bisnis, menjadi konsultan media planner adalah pilihan yang bagus karena dapat menilai sebagai “orang luar” disamping pengalaman yang luas di dunia media periklanan.     
 Waktu Kerja : Waktu kerja Anda disesuaikan dengan kontrak yang Anda buat dengan perusahaan yang membutuhkan jasa Anda.
 Persyaratan : Memiliki pengalaman yang luas dan keahlian tinggi di bidang yang relatif baru dan kompetitif ini, karena kita bicara promosi dan pemasaran.
 Kompensasi : Anda dibayar sesuai kesepakatan kontrak yang Anda buat dengan pihak perusahaan.

3).  Dealer Peralatan Audio Visual
       Deskripsi Kerja : Menjual peralatan audio visual, biasanya dari perusahaan retail yang sudah mapan. pekerjaan ini cocok bagi Anda yang berminat dengan peralatan audio visual. Jika anda berjalan-jalan ke pertokoan di Glodok, bisa Anda temui orang-orang yang menjadi dealer peralatan audio visual, mulai dari tv sampai speaker radio.
 

Waktu Kerja : Jika Anda yang bekerja. Waktu kerja Anda berdasarkan jam kerja yang telah disepakati dengan pemilik toko.  Jika Anda yang memiliki usaha, jam kerja anda lebih fleksibel.

Persyaratan : selain modal uang yang cukup, Anda harus memiliki pengetahuan bagaimana peralatan ini dapat digunakan.

Kompensasi : Jika Anda yang bekerja, anda dibayar berdasarkan kesepakatan dengan pemilik. Jika Anda ynga memiliki usaha, kompensasi diperoleh dari keuntungan penjualan yang dilakukan, disamping bonus dari perusahaan retailnya jika bisa melebihi target.

4.)   Penyedia jasa Servis dan instalasi peralatan audio visual.
        Deskripsi Kerja : Bagi Anda yang suka mengutak-atik peralatan audio visual, pekerjaan yang satu ini cocok untuk anda. selain menerima jasa instalasi dan perbaikan alat-alat audio visual, termasuk OHP, video rekorder, vCD/DVD player, anda juga bisa menerima jasa transfer video.
 

Waktu Kerja : Jika Anda bekerja di sebuah usaha servis dan instalasi peralatan audio visual, maka waktu kerja Anda mengikuti kesepakatan dengan pemilik. Dan jika Anda seorang penyedia jasa independen, maka Anda bisa mengatur waktu jam kerja sesuka Anda.
 Persyaratan : memiliki pengetahuan bagaimana menginstalasi dan memperbaiki peralatan-peralatan ini. Anda bisa memperoleh keahlian dan pengalaman ini, baik dengan cara bekerja terlebih dulu di pabrik pembuat peralatan ini maupun bekerja di sebuah usaha servis dan instalasi milik orang lain.
 

Kompensasi : Jika Anda bekerja pada usaha milik orang lain, maka Anda dibayar berdasarkan kesepakatan Anda dengan pemilik. Dan jika Anda bekerja secara indpenden, maka Anda bisa melakukan negosiasi langsung dengan orang yang membutuhkan jasa Anda.

5.) Agen Persewaan Peralatan Audio Visual
      Deskripsi :Menyewakan atau me-leasing peralatan audio visual kepada orang, perusahaan atau organisasi lain yang sedang mengadakan event seperti pernikahan, seminar, panggung hiburan, dll. umumnya, dikarenakan harga peralatan audio visual yang relatif mahal untuk dibeli, sedangkan penggunaannya hanya sesekali, menjadikan sewa alat audio visual sebagai pilihan terbaik. mulai dari sound system, OHP, hingga LCD. pekerjaan ini meskipun umumnya dilakukan di tingkat retail, tapi bisa juga dijalankan dari rumah.
 

Waktu Kerja :Jika bekerja di salah satu usaha retail, anda mungkin bekerja sesuai jam kerja. tapi jika menjalankannya dari rumah, Anda bisa memiliki waktu yang sangat fleksibel dalam bekerja, meskipun anda harus mengatur betul jadwal mengantar dan mengambil kembali peralatan yang disewakan tersebut dari klien. 
 

Persyaratan :Mampu memasarkan jasa anda pada ceruk pasar yang tepat dikarenakan tingkat persaingannya yang tinggi. Memiliki relasi dengan berbagai perusahaan dan organisasi yang mungkin sekali membutuhkan peralatan audiovisual Anda tapi tidak menghendaki memiliki tanggungan beban peralatan audio visual pada laporan keuangannya. Dan tentunya, anda membutuhkan modal kerja untuk membeli dan merawat peralatan audio visual dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan sewa.  
 Kompensasi :Pendapatan Anda didapat dari hasil menyewakan peralatan Anda. Ada baiknya memeriksa betul persaingan jenis usaha ini di wilayah target pemasaran Anda sebelum menentukan harga sewa alat. dan jika Anda yang mengantarkan dan menjemput peralatannya, anda bisa mengenakan biaya antar-jemput alat.

6.) Pengarang/ Penulis Buku
      Deskripsi :Merupakan pekerjaan yang paling bisa dilakukan banyak orang yang sudah mengenal baca dan tulis. dan merupakan gudangnya pengetahuan. Anda bisa membuat/ menulis buku dengan kategori fiksi maupun non-fiksi sesuai kecenderungan dan minat. sebutlah pengarang miliarder seperti J.K Rowlins yang terkenal dengan Harry Potternya, Stephen Covey dengan 8th habitnya, atau seperti Faudhil Adhim yang terkenal dengan trilogi indahnya pernikahan dini dan masih banyak lagi.
 

Waktu Kerja :Sangat fleksibel, mengingat sebuah buku yang bermutu untuk dibaca orang merupakan hasil pencarian dan pendalaman materi-materi yang menjadi bahan tulisannya. 
 Persyaratan :Memiliki keunikan tersendiri dalam menulis buku. bisa berupa topiknya yang sedang populer, tingginya nilai informasi dan pengetahuan yang dikandungnya, gaya bahasa penulisan maupun kuatnya kesan terhadap karakter-karakter yang disebutkan di dalam karangan buku tersebut.
 

Kompensasi :Sebagai penulis buku, umumnya Anda akan menerima royalti penjualan dari penerbit sebagai hak Anda atas karya intelektual Anda. semakin banyak buku Anda di beli orang, tentu semakin besar royalti yang anda dapatkan. disamping dapat mengantarkan anda pada peluang lainnya seperti menjadi pembicara dalam seminar, menjadi konsultan sebuah perusahaan (bagi buku-buku laris yang berkaitan dengan bisnis).

7.) Agensi/ Manajer Pengarang
     Deskripsi : Setiap penulis atau pengarang buku tentu tidak bisa sendiri mengantarkan karyanya kepada penerbit buku ataupun produser film karena sebagian besar waktunya telah habis untuk menulis. untuk itu, peran seorang manajer bagi penulis amat diperlukan guna mengajukan karya anda kepada penerbit ataupun produser, mengurusi kontrak perjanjian yang berhubungan dengan karya Anda maupun diri anda sebagai penulis, mengatur perjanjian untuk acara seperti seminar dan lainnya.  
 

Waktu Kerja : Seorang agensi/ manajer bagi penulis buku boleh dibilang menjadi pelaku bisnis bagi dirinya, dalam arti seperti seorang manajer pencari bakat yang melihat potensi yang dimiliki seseorang dalam menulis. sehingga, waktu kerjanya dapat diatur sendiri sedemikian rupa. namun, sebagai agensi/ manajer, anda harus selalu siap waktu untuk bertemu dengan produser atau penerbit. 
 

Persyaratan : Sangat penting untuk mengenal orang-orang di industri penerbitan, film dan pertelevisian dan mengetahui saat ini mereka sedang tertarik atau berminat dengan topik apa untuk di angkat saat ini. selain itu, menjaga komunikasi secara konstan dengan berbagai pihak di masing-masing industri tersebut amatlah penting. Dan yang namanya agen pencari bakat, Anda setidaknya memiliki kepekaan terhadap hal-hal yang baru ataupun sedang populer saat ini, karena agensi/ manajer yang sukses adalah bilamana mereka memiliki penulis-penulis yang mencapai tangga kesuksesan secara stabil yang dapat menghasilkan banyak uang bagi Anda selaku manajernya. 
 

Kompensasi : Sebagai agen, Anda memperoleh kompensasi dari persentase keuntungan yang didapat dari penjualan buku yang dihasilkan oleh penulis/ pengarang yang ditanganinya. dan jika beruntung, sebaga agensi, anda juga bisa mendapat persentase keuntungan bilamana anda sukses menjadikan karya si penulis diangkat menjadi film dan penjualan atribut lainnya.  
8.) Penjilidan Buku
      Deskripsi : Pada umumnya, pekerjaan penjilid buku ini terintegrasi dengan usaha fotokopi dan penerbitan. tapi, tidak menutup kemungkinan untuk membuat sebuah pekerjaan spesifik penjilidan buku yang menawarkan keunikan tersendiri, mengingat tren outsourcing ada kemungkinan besar akan merambah ke sektor bisnis penerbitan dan percetakan. peluang besar terbuka di hadapan Anda, karena di samping dijalankan dari sebuah toko, usaha penjilidan buku ini bisa anda lakukan di rumah.   
 

Waktu Kerja : jika Anda bekerja di perusahaan penerbitan atau percetakan, maka waktu kerja anda tentu mengikuti jam kerja yang sudah dibuat. tapi jika Anda bekerja di rumah, anda perlu bersiap-siap menerima tumpukan order penjilidan yang dapat memenuhi isi rumah Anda.
 

Persyaratan : Anda sebaiknya memiliki peralatan dan kemampuan untuk menjilid buku. Untuk memperdalam pengetahuan anda seluk-beluk mengenai penjilidan, anda bisa bertanya atau belajar langsung pada orang-orang yang bekerja di percetakan, fotokopi maupun penerbitan.
 

Kompensasi : normalnya, anda mendapat kompensasi dari jasa anda menjilid buku. sebaiknya anda memeriksa tingkat persaingan di wilayah sekitar target anda sebelum mengajukan harga. namun, pada umumnya, bila di usaha fotokopian, harga penjilidan buku di dasarkan pada spesifikasi penjilidan yang dikehendaki, bila hanya kertas biasa dan pakai lakban, tentu sangat murah, tapi jika dijilid soft cover atau hard cover, harganya bisa cukup tinggi. hal ini bisa dilihat dari harga penjilidan sebuah skripsi, tesis, disertasi mahasiswa yang lumayan mahal.

9.)  Agen Penjual buku bekas dan langka
       Deskripsi : Sesuai dengan namanya, pekerjaan yang anda lakukan adalah menjual buku-buku bekas dan langka kepada orang-orang yang memiliki minat khusus terhadap buku-buku tersebut. Anda bisa memperoleh buku-buku tersebut dari event-event bazaar buku atau dari toko buku dan catalog buku.  
 

Waktu Kerja : Jika Anda bekerja di toko buku bekas dan langka, maka waktu kerja anda mengikuti jadwal kerja yang sudah dibuat. tapi jika bekerja secara independen, Anda bisa menjualnya melalui garage sale, bazaar buku kampus, dll.  
 

Persyaratan : memiliki informasi buku bekas dan langka yang dicari oleh penggemarnya. Anda bisa mencarinya di acara bazaar buku atau toko buku bekas lainnya yang menyediakan buku yang dibutuhkan penggemarnya. dan karena berkaitan dengan buku bekas dan langka, setidaknya anda memiliki minat atau hobi yang mendalam terkait mengkoleksi buku-buku bekas dan langka tersebut. 
 

Kompensasi : pendapatan Anda didapat dari keuntungan penjualan buku-buku bekas dan langka tersebut. mungkin harga buku bekas tidak semahal buku baru, tapi jika buku bekas itu sudah demikian langka tapi masih dicari orang untuk dikoleksi, anda berkesempatan menjualnya dengan harga yang tinggi.  

sementara ini dulu, kapan-kapan diteruskan lagi. bagi pembaca yang ingin memberi komentar, saran dan informasi lain terkait jenis-jenis pekerjaan yang dapat kita ciptakan sendiri. hal ini akan lebih memacu bahwa ternyata, ada beragam jenis kerja yang mungkin sesuai dengan minat dan hobinya.

Ditulis dalam kerja dan bisnis | 1 Komentar »