Inovasi Dimulai dari Hikmah

Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Hikmah adalah mutiara umatku yang terpendam, galilah ia di mana pun kamu temukan”

(HR. Tirmidzi).

 

            Hikmah, dalam keseharian kita, umumnya melekat dalam pembicaraan atau obrolan yang berkenaan dengan suatu musibah. Musibah itu bisa berupa kecopetan, sanak famili meninggal, hingga musibah yang dianggap luar biasa semisal gempa, banjir dan lainnya. Adapun umumnya juga, pembicaraan itu sering kali berujung pada perkataan “yaa..mungkin ada hikmahnya di balik ini”, selesai! Coba simak ucapan ini bila ada rekan kerja atau teman sejawat Anda yang sedang mengobrol tentang suatu kejadian yang dianggap musibah. Hampir sebagian besar, hikmah hanya kita gunakan sebatas upaya menghibur hati, tapi tidak kita berupaya menggali betul hikmah yang sudah ditemukan tersebut.

 

             Hikmah, jika merujuk pada maknanya dalam bahasa Arab, bisa berarti kebijaksanaan atau pengetahuan yang terperinci. Definisi dari hikmah ini dapat pula disetarakan dengan wisdom atau insight dalam bahasa Inggris. Dan seseorang, ketika sudah sampai ke tingkatan wisdom atau insight, ia akan memunculkan suatu pandangan baru yang mencerahkan orientasi hidupnya maupun orang lain. Pada momen-momen semacam ini, lahirlah pemikiran baru atau yang bisa kita sebut dengan inovasi. Bilamana inovasi tersebut di aktualisasikan dalam konsep pemikiran, maka jadilah ia teori baru. Bila di aktualisasikan dalam bentuk barang dan jasa, maka jadilah ia produk dan jasa yang inovatif. Karena, hal ini tidak saja mencerminkan sisi Know-How dari orang tersebut, tetapi juga sisi Know-Why, yang berperan besar dalam menciptakan inovasi.

 

            Inovasi, dalam konteks kekinian menempati peran sentral dalam mendorong kemajuan bisnis dan ekonomi suatu perusahaan atau bangsa. Inovasi juga menjadi parameter yang menentukan, apakah suatu perusahaan atau bangsa mampu tumbuh dan berkembang di era persaingan yang semakin kompetitif di masa kini dan mendatang. Hal ini sudah diterima oleh sebagian besar pelaku bisnis sebagai keyakinan umum. Michael Porter menyebutkan bahwa sumber-sumber paling penting yang berkontribusi terhadap kemakmuran bukanlah faktor-faktor warisan (inheritance), tetapi diciptakan (created). Kemakmuran tersebut ditentukan oleh tingginya daya saing sebagai akibat tingginya kapasitas inovasi. Jadi, dapat dikatakan bahwa daya saing suatu industri di suatu daerah atau bangsa berkaitan langsung dengan kapasitas inovasinya.

 

            Terkait dengan kapasitas inovasi pada perusahaan syariah, pertanyaan yang muncul kemudian adalah, basis metode inovasi yang bagaimanakah yang diterapkan oleh perusahaan syariah sejauh ini dalam mengembangkan produk dan jasa layanannya? Karena, sebagaimana diketahui bahwa sejumlah usulan produk dan jasa inovatif yang dihasilkan oleh perusahaan syariah sejauh ini sering terkendala oleh aspek kesesuaian dengan syariah ketika usulan tersebut dibawa ke dewan penasihat syariah.

 

Jika sudah seperti ini masalahnya, mengapa tidak mencoba untuk mengganti basis metode inovasi konvensional yang dipraktikkan selama ini dengan metode inovasi yang didasarkan pada hikmah. Karena selain cepat ditemukan dalam keseharian kita, hikmah sesungguhnya mengajak siapa pun yang merenungi dan menggalinya untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Sehingga, produk dan jasa inovatif yang diusulkan pun insya Allah berada dalam arahan dan koridor mengajak konsumen atau user untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah. Yang hal ini tercermin dari terpenuhinya maqoshid (tujuan) syariah dan maslahat pada diri kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen. Insya Allah, kendala di atas dapat di atasi dengan cepat. Selain itu, hikmah tidak dapat begitu saja dipahami oleh orang-orang yang jauh dari Allah, sekalipun mereka dapat mempraktikkannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Saw dalam hadits tersebut di awal tulisan ini. Sehingga, hikmah dengan sendirinya merupakan metode yang unik dan khas untuk diterapkan oleh perusahaan-perusahaan syariah.

 

            Sebagai ilustrasi inovasi yang berangkat dari hikmah, kita dapat mengambil contoh dari tindakan para pelaku bom Bali. Terlepas dari pro-kontra yang melingkupinya, tindakan Amrozi dkk sesungguhnya menjadi hikmah yang dapat digali oleh praktisi pemasaran syariah untuk menghasilkan inovasi dalam praktik pemasaran. Jika Amrozi dkk dipandang sebagai konsumen, mungkin kita bisa bertanya-tanya. Seperti apakah sistem edukasi konsumen yang dijalani oleh Amrozi dkk sehingga menjadi konsumen yang loyalis dan bahkan berani membela produk yang dikonsumsinya. Apakah karena Brand Islam-nya? Rasanya kurang tepat. Apakah karena iming-iming material? Jawaban yang diberikan Amrozi bukan soal benefit harta. Hikmah tersebut digali terus secara mendalam, sehingga sampai pada kesimpulan, bagaimana bila sistem edukasi yang dijalani oleh Amrozi dkk dapat dipraktikkan oleh perusahaan untuk membentuk konsumen yang loyal. Dari sini, muncullah inovasi pemasaran baru.

 

            Ilustrasi hikmah yang dapat menjadi inovasi yang lain lagi dapat kita ambil dari musibah banjir yang melanda Jakarta baru-baru ini, terlebih pada apartemen-apartemen yang basement-nya terendam air. Sebagaimana telah diketahui, nyaris tidak ada lagi lahan yang dapat ditanam di Jakarta ini karena sudah berganti dengan tiang-tiang beton. Jika bagian basement paling bawah dari setiap gedung perkantoran, apartemen dan mall ini diubah menjadi lahan pertanian tentu dapat membuka lahan kerja baru bagi sebagian besar warga di Jakarta. Adapun jenis tanaman yang ditanami adalah tanaman yang dibutuhkan untuk diolah menjadi Bio-ethanol, tetapi bukan tanaman jarak ataupun kelapa sawit, melainkan jagung dan ubi kayu serta mungkin juga padi, karena ketiganya mengandung glukosa (C6H12O6) yang dapat di ubah menjadi ethanol (C2H5OH) sebagaimana dapat di tunjukkan dalam persamaan reaksi kimia berikut : C6H12O6 è 2C2H5OH + 2CO2

 

Dalam hal ini, pihak perbankan syariah dapat membuat kontrak muzaro’ah dengan pengusaha yang mau membuka lahan pertanian di lantai-lantai basement tersebut dan juga dengan pemilik apartemen, kantor dan pertokoan yang lantai basement-nya hendak dimanfaatkan untuk lahan pertanian tanaman Bio-ethanol.

 

Manfaatnya adalah, selain dana di bank mengalir ke sektor riil, sebagian warga miskin di Jakarta memperoleh kesempatan kerja baru dengan adanya model pertanian kota. Perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya dapat memperoleh obyek riset multidisiplin yang dekat lokasinya. Pihak asuransi syariah dapat meng-cover bila terjadi kegagalan panen. Lembaga Zakat dapat mengetrapkan zakat pertanian. Dan, secara ekologi, model pertanian kota bawah tanah berperan dalam menciptakan reservasi air tanah bagi wilayah Jakarta. Selain itu, keuntungan yang di dapat pun jelas dan halal bagi setiap pihak yang terlibat karena hasil olahannya digunakan sebagai campuran bahan bakar yang dibutuhkan oleh setiap industri dan rumah tangga. Serta, hasil zakatnya dapat digunakan untuk menyuplai kebutuhan pangan masyarakat kurang mampu di Jakarta. Inilah dimensi maqoshid dan maslahat yang tercermin bilamana sebuah hikmah digali.

 Sehingga hikmah, bila ditarik relevansinya dengan dunia ekonomi dan bisnis, menjadi referensi inovasi bagi siapa pun yang tak ada habisnya. Karena hikmah selalu hadir dalam keseharian kita, seiring musibah yang kita dengar atau rasakan dan alami sehari-hari. Sehingga, nyatalah maksud Nabi Saw dengan menyebutkan hikmah sebagai mutiara. Karena hikmah yang digali betul-betul dapat menjadi sumber kekayaan baru bagi penemu dan penggalinya. Selain itu, Allah Ta’ala juga sudah mengafirmasi hal ini sebanyak dua kali di dalam Q.S Al-Insyirah ayat 5 dan 6: “Sesungguhnya bersama kesusahan terdapat kemudahan (5). dan sesungguhnya bersama kesusahan terdapat kemudahan (6)”. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi perusahaan-perusahaan syariah untuk kembali meyakini dan  mempraktikkan hikmah yang diajarkan Nabi SAW tersebut guna menjadi perusahaan yang unggul di era persaingan yang tinggi seperti sekarang. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa, inovasi dimulai dari hikmah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s