Flu burung dan Anthrax di Indonesia: Teror senjata biologis ?

Berbagai media sempat ramai mengangkat isyu-isyu yang sejenis, yaitu teror. Mulai dari teror bom, hadirnya penyakit flu burung yang diikuti dengan anthrax, hingga isyu impor beras asing baru-baru ini sebagai teror terhadap pangan nasional. Dibanding isyu teror bom berikut pencarian oknum-oknumnya dan isyu impor beras, flu burung dan anthrax menempati posisi permasalahan yang unik sekaligus rumit.

Isyu ini dikatakan unik karena pertama, ia berhubungan langsung dengan kesadaran mental setiap orang yang peduli dengan kesehatan dirinya. Karena, mau tidak mau, implikasi dari pengumuman kedua penyakit tersebut ke ranah publik menjadi meluas. (1). Pengumuman tersebut membuat orang waspada dan selektif dalam memilih makanan yang hendak masuk ke perutnya. (2). pengumuman tersebut di satu sisi memukul industri ternak ayam dan sapi karena orang jadi mengurangi permintaan konsumsi terhadap keduanya.

Di sisi lain, pengumuman tersebut menjadi bak hujan emas bagi industri kesehatan, baik kesehatan ternak maupun manusia. Karena munculnya penyakit baru berarti bisnis dan proyek baru di sektor kesehatan. Mulai dari obat vaksinasi ternak sampai proses vaksinasi itu sendiri, program-program penelitian dan penyuluhan kesehatan ternak maupun konsumsi ternak, sampai publisitas diri maupun lembaga yang berhubungan dengan kedua penyakit tersebut.

Kedua, ia berhubungan dengan apa yang kita sebut sebagai contoh riil senjata biologis. Entah kenapa, sampai saat ini belum banyak ahli yang menyinggung potensi flu burung dan anthrax sebagai senjata biologis. Padahal beberapa tahun terakhir ini boleh di bilang merupakan tahun-tahun penuh teror.

            Dalam psikologi teror, senjata untuk teror tidak harus berupa mesin pembunuh kaliber bom nuklir ataupun bom bunuh diri seperti 9/11 dan bom
Bali. Cukup dengan sejumlah orang sebagai bukti korbannya dan publikasi masal: “AWAS! FLU BURUNG DAN ANTHRAX TERSEMBUNYI DALAM DAGING YANG ANDA MAKAN, ANDA TIDAK SELALU TAHU APA YANG ANAK ANDA MAKAN DI LUAR RUMAH.” Pesan ini akan membuat orang tua waspada terhadap anak-anaknya. Minimal, orang tua akan rajin berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak sembarangan makan di luar atau menyarankan untuk memakan bekal yang dibawa dari rumah.

Jika pesan ini berhasil. Akan dilanjutkan dengan pesan berikutnya yang lebih kuat. Jika orang semakin takut dengan ayam dan sapi, teror pun berhasil. Karena, orang-orang itu akan dengan sendirinya mencari dan patuh kepada siapa pun yang bisa menjamin keamanan dalam mengkonsumsi daging.

            Kembali ke potensi flu burung dan anthrax sebagai teror senjata biologis. Ia tidak terasa sebagai senjata karena ia sesuatu yang dekat dan terkadang menjadi bagian dari konsumsi kita. Disinilah letak kerumitan dalam mendeteksi teror senjata biologis. Ia boleh jadi tersembunyi dalam daging kesukaan kita, lalu tertempel pada bibir gelas kopi, susu atau pun air yang kita minum. Karena tidak dicuci bersih, gelas tersebut masih tertempel virus flu burung atau pun anthrax. Hingga kemudian virus tersebar pada siapa pun yang menggunakan gelas tersebut selama belum steril.

Setelah itu, medium persebaran bukan lagi pada ayam atau sapi, melainkan sudah antar manusia, seperti halnya HIV/AIDS. Bila pola persebarannya sudah sampai sedemikian rupa, orang bukan lagi takut pada ayam atau sapi, melainkan sudah takut berhubungan dengan sesama manusia karena takut ketularan. Bila sudah sampai tahap ini, bisa saja setiap manusia menjadi ancaman bagi manusia yang lain. Anak tidak mau dekat dengan orang tua yang tertular dan sebaliknya, teman tidak mau mendekat dengan keluarga temannya yang tertular, dan sebaliknya. Yang terjadi kemudian adalah terjadinya multiplier effect krisis ketidakpercayaan terhadap manusia itu sendiri. Dan itu adalah inti dari teror, menimbulkan ketidakpercayaan dan ketergantungan terhadap siapa pun yang mengklaim mampu mengatasi teror tersebut (siapa lagi kalau bukan si pembuat teror).

Sebetulnya siapa pun bisa melakukan teror ini, baik sengaja maupun tidak. Namun, umumnya teknik ini sudah jamak di dunia agen rahasia dan intelijen asing dalam upaya menjatuhkan pemerintah lawan secara terselubung. Karena orang lebih waspada terhadap musuh berupa orang dari pada musuh berwujud makanan (detasemen 88 lebih sergap memburu dr.Azahari dan komplotannya ketimbang memburu unggas dan sapi).

Boleh jadi saat ini, secara sembunyi-sembunyi Indonesia tengah menjadi
medan eksperimentasi teror dan anti-teror. Dengan maraknya berbagai aksi teror yang merebak, tentu kita juga perlu memperhatikan salah satu potensi teror dengan menggunakan senjata biologis dalam bentuk flu burung dan anthrax di
Indonesia. Karena inti dari aksi teror adalah membangun opini ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. Akan sudah bisa diduga bagaimana reaksi publik bila pemerintah tidak mampu menghentikan persebaran flu burung dan anthrax berikut jumlah korbannya.  minimal, mosi tidak percaya terhadap pemerintah akan meningkat, selebihnya, boleh jadi tuntutan mundur akan datang silih berganti.

Iklan

One response to “Flu burung dan Anthrax di Indonesia: Teror senjata biologis ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s