MEMAHAMI PERKEMBANGBIAKAN TERORISME (Proses, analisa dan solusi alternatif)

            Seperti halnya organisme, terorisme pun harus berkembang biak untuk tetap bertahan hidup. Pernyataan ini bukan berarti saya setuju dengan terorisme. Namun, hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa hidup dan mati suatu spesies (manusia, hewan dan tumbuhan) ditentukan dari kemampuannya untuk berkembang biak.

                Dengan memahami metode dasar perkembang biakan, yaitu generatif dan vegetatif, kita bisa menganalisa perkembangan terorisme itu sendiri. Sederhananya, untuk mempertahankan suatu keberadaan, organisme bersel tunggal akan membelah diri dari satu kelompok besar menjadi dua kelompok yang lebih kecil, lalu membelah diri lagi menjadi empat kelompok yang lebih kecil dan seterusnya sesuai deret ukur. Begitu pula terorisme menyebar dan berkembang biak.

            Bagaimana pun, dalam hukum alam berlaku prinsip keseimbangan. Aksi pengejaran dan upaya penangkapan terhadap sejumlah aktor teroris seperti dr. Azahari (alm) maupun Noordin M. Top yang dilakukan jajaran kepolisian, khususnya melalui detasemen 88 bisa diduga akan menghasilkan reaksi balik dari kelompok terorisme itu sendiri cepat atau lambat dengan berkembang biak sebagai upaya pertahanan terkuat sepanjang masa. Sebagaimana pepatah mengatakan “Mati satu, tumbuh seribu”.

 

           Dengan memahami hal tersebut di atas, walau pun kepolisan RI tetap diberi bantuan militer dari negara-negara asing untuk menghabisi terorisme sampai ke akar-akarnya, kita bisa berasumsi bahwa terorisme itu sendiri tidak akan musnah dengan cara-cara militer seperti kontra-terorisme. Bahkan membuka kemungkinan menambah daftar kelompok teroris baru dengan motif-motif yang tidak selalu sama dengan pendahulunya.

             Dalam hal ini, strategi “tangkap jendralnya, musuh akan takluk dengan sendirinya” tidak berlaku. Kita tidak sedang berhadapan dengan satu kelompok teroris, melainkan dengan jaringan terorisme. Itu berarti bahwa dr. Azahari dan kelompoknya hanya salah satu komponen dari struktur dan sistem jaringan terorisme internasional.

             Bahkan dalam pandangan penulis secara pribadi,
Indonesia saat ini tidak lebih dari arena eksperimen perang untuk kedua kalinya. Jika yang pertama adalah arena perang ideologi Kapitalisme dan Komunisme pada masa perang dingin. Kali ini arena perang terorisme dan kontra-terorisme. Bahkan teori domino yang dominan dalam perang dingin boleh di bilang berlaku kembali dengan pelaku dan arena yang boleh jadi berbeda melihat peta persebaran terorisme.

Setiap hasil dari eksperimen tersebut dilaporkan kepada masing-masing pemberi bantuan kedua belah pihak di luar negeri. Pemberi bantuan menerima laporan dan mengkajinya secara seksama, bila puas, bantuan akan diteruskan bahkan ditingkatkan. Pemberi bantuan tidak perlu bersusah payah terjun ke lapangan sendiri karena sudah ada negara yang bersedia menjadi relawan untuk dijadikan arena eksperimen sekaligus memberi perlindungan kekuasaan bagi pemberi bantuan. Sekali pun kerjasama yang muncul tampak menguntungkan kedua belah pihak, secara tak sadar kita dibuat melayani kepentingan utama pemberi bantuan. Baik warga
Indonesia yang terpikat dengan gerakan terorisme maupun kepolisian RI yang banyak disokong oleh AS untuk menghabisi terorisme.

Bila hal ini berkepanjangan, boleh jadi dalam kurun waktu tertentu, teror bukan lagi dilakukan oleh kelompok terorisme itu sendiri, melainkan oleh negara itu sendiri kepada warganya dalam bentuk teror negara (negara vis-à-vis rakyat). Hal ini yang harus lebih diwaspadai. Keinginan pemerintah AS kepada kongres AS pasca 9/11 untuk memasang kamera pengintai di setiap sudut ruang publik masyarakatnya sudah bisa mengindikasikan teror negara dalam bentuk minimal. Di Indonesia, OYK (operasi yustisi kependudukan) yang dilakukan aparat terhadap warga di sejumlah daerah di Jakarta pasca lebaran tahun 2005 lalu ini menemukan momentum tepat untuk sekaligus mencari orang-orang yang terlibat kegiatan terorisme seperti yang dilansir KOMPAS (28/11/05), sebuah momentum tepat untuk melancarkan teror negara.      

Ajakan Presiden SBY kepada tokoh agama dan pendidikan agama untuk memberikan pendidikan dan pemahaman agama yang mencerahkan ketika berkunjung ke
Pakistan baru-baru ini merupakan awal yang baik untuk mengatasi persoalan terorisme dengan cara-cara nirkekerasan (non-violence action). Namun, dalam skala 1-10, penulis baru mampu memberi nilai 3. Skala tersebut baru akan naik menjadi 5 jika ajakan tersebut bisa dilaksanakan oleh para tokoh agama dan pendidikan agama. Untuk dapat beranjak ke skala 6-10, harus ditindaklanjuti dengan sejumlah tindakan nyata dari pemerintah sendiri untuk mengatasi masalah yang ada pada dirinya.

 

                 Kita lebih mudah melihat musuh sebagai yang “di luar” diri kita. Namun, kita jarang bahkan tidak pernah bisa dan berani melihat musuh yang “di dalam” diri. Jika Osama disebut sebagai teroris, apa yang menjadikannya seperti itu? Padahal sebelumnya ia di eluk-elukan baik oleh AS maupun pemerintah Saudi sendiri sebagai pahlawan perang Afghan melawan Uni Soviet pada tahun 1980-an.

             Teka-teki awal terjawab setelah Osama pulang kembali ke Saudi dari perang
Afghanistan. Ia kecewa dengan keluarga kerajaan yang dinilainya sudah menyelewengkan kekuasaan, dengan kata lain sudah menjadi pemerintahan yang korup, belum terhitung dengan mudahnya peredaran minuman keras dan wanita-wanita penghibur di kelab-kelab malam mau pun hotel di
sana. Ditambah dengan semakin lemahnya harga diri negara Saudi terhadap bantuan asing yang berdampak terhadap masuknya pengaruh-pengaruh budaya asing ke dalam masyarakat Islam di
sana. Oleh karena Osama tidak mungkin melakukan revolusi berdarah terhadap keluarga kerajaan. Kemungkinan terbesar, ia memfokuskan serangan pada negara yang menjadi sumber penyakitnya, yaitu AS.

Secara kontekstual, dominasi masyarakat Arab Saudi dan
Indonesia adalah muslim. Terlebih lagi
Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia. Akan tetapi, adalah ironi bahwa masyarakat muslimnya sendiri sudah bergeser dari nilai-nilai ajaran Islam. Dengan alasan kekecewaan yang nyaris mirip dengan Osama (pemerintahan yang korup, ‘legalisasi’ perdagangan minuman keras, judi, pornografi dan tempat-tempat pelacuran oleh pejabat-pejabat korup, serta lemah terhadap utang dan bantuan asing) dengan sukses memunculkan orang-orang seperti Hambali,  Imam Samudra, dr. Azahari dan lainnya(?) Mereka sukses mewakili orang-orang muslim yang tak berdaya dan lemah terhadap keadaan ini untuk melawan orang-orang yang menyukai keadaan seperti ini. Maka, seperti yang telah  terjadi, aksi-aksi bom bunuh diri melibatkan tempat-tempat yang boleh dibilang akrab dengan kemaksiatan atau pun sumber kemaksiatan, sekalipun terdapat orang Islam yang menjadi korbannya. Hal ini sekaligus menjadi travel warning buat yang beragama Islam, jangan berkunjung ke tempat-tempat yang demikian jika tidak ingin menjadi ‘korban kebetulan’ berikutnya.

Dengan berefleksi terhadap kondisi internal bangsa ini, apakah penanganan terorisme masih mau dilakukan pemerintah dengan cara counter-terrorism? Melihat implikasinya terhadap perkembangbiakan terorisme itu sendiri. Tidak lebih penting berdebat apakah
Indonesia kemudian harus menjadi negara Islam atau tidak. Yang lebih penting adalah menghentikan sumber-sumber perusak masyarakat dan harga diri bangsa, itu yang harus diselesaikan terlebih dulu jika ingin
Indonesia aman.

Cara-cara nirkekerasan memang akan merugikan dari sisi kepentingan bisnis dan penerimaan negara, khususnya dari sektor bisnis haram, tapi tidak merugikan untuk keamanan publik. Dengan menindak tegas aparat pemerintah yang korup dan mengubah sistem birokrasi yang korup, pelaku bisnis yang melakukan praktik bisnis tersebut di atas berikut oknum pelindungnya serta menolak penerimaan utang dan bantuan asing baru yang justru semakin menambah dalam lubang utang luar negeri dan menurunkan harga diri bangsa untuk terus ketergantungan. Jika hal ini dapat dilakukan, tidak ada teroris dan pihak asing yang dapat dengan mudah mengobok-obok Indonesia sebagai arena eksperimen perang dan adu domba lagi. Kecuali bila Indonesia memang senang menjadi kelinci percobaan, ceritanya jadi lain. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s