mencari obat modernitas

Ilmu pengetahuan, bisnis, politik, semakin kehilangan semua dasar-dasar ukuran perikemanusiaan. Manusia zaman kini, atau tepatnya kita, lebih banyak hidup dan bicara dalam dimensi angka dan abstraksi. Dimensi-dimensi itu jauh diluar batas-batas yang memungkinkan pengalaman konkret apapun. Tak ada lagi yang konkret, tak ada lagi yang nyata. Teori-teori ekonomi bicara dalam model dan asumsi, teori-teori politik bicara dalam konsep dan tatanan, dan teori-teori pengetahuan pun tak ubahnya bermain filsafat dan logika pemikiran dalam wujud abstraksi. Tak ada ada lagi kerangka acuan yang dapat diatur, diamati, disesuaikan dengan dimensi-dimensi manusiawi. Sehingga konsep kita tentang dunia telah kehilangan kualitasnya, jati dirinya, hakikatnya. Manusia telah terlempar dari tempatnya yang mapan sebagai khalifahtul fil ardh, dari tempat ia mengawasi dan mengatur hidupnya dan masyarakatnya. Ia semakin lama semakin dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang pada mulanya ia ciptakan ataupun diproduksinya sendiri. Dalam kebingungan yang tak menentu ini ia berpikir, membuat angka-angka, sibuk dengan abstraksi-abstraksi yang makin jauh dari kehidupan konkret.[1]  Di masa lampau, orang-orang dengan tangannya, memproduksi barang-barang untuk kelompok pembeli dan pelanggan yang relatif kecil dan dikenal. Harga barang produksinya ditentukan oleh kebutuhan membuat keuntungan yang memungkinkannya hidup dalam gaya yang secara tradisional sepadan dengan status sosialnya. Dari pengalaman ia mengetahui berapa biaya produksinya. Sekalipun ia mempekerjakan beberapa orang, tak ada sistem terperinci tentang tata buku ataupun neraca sebagai metode abstrak perhitungan yang diperlukan untuk operasi bisnisnya. Sehingga pembayaran relatif disesuaikan dengan kesepakatan setiap pihak yang terlibat di dalam pekerjaan produksi tersebut. Sebaliknya, pada bisnis perusahaan modern, tidak dapat mengandalkan diri pada pengamatan langsung dan konkret guna menghitung keuntungannya. Biaya bahan mentah, mesin-mesin, pekerja, maupun biaya produksi cenderung dapat dan hanya dapat diungkapkan dalam persamaan neraca dan perbandingan yang tepat dalam proses-proses ekonomi yang dihitung dalam angka-angka satuan uang. Sehingga memberi penjelasan kepada manajer apakah dan sampai tingkat mana ia disibukkan dengan keuntungan, yang menunjukkan suatu aktivitas bisnis yang berarti. Perubahan dari perhitungan konkret menjadi abstrak ini telah berkembang jauh melewati neraca dan kuantifikasi kegiatan ekonomi dalam proses produksi perusahaan modern. Para pelaku bisnisnya tidak hanya disibukkan dengan uang jutaan ataupun milyaran bahkan triliunan rupiah, dolar ataupun yen, tetapi juga dengan jutaan pembeli, ribuan pemegang saham, serta ratusan bahkan ribuan pekerja dan pegawai. Semua orang tersebut dan mungkin termasuk kita,  seakan menjadi onderdil-onderdil yang begitu banyak dari suatu mesin raksasa yang harus senantiasa dikontrol, yang efeknya juga harus diperhatikan, membuat setiap orang pada akhirnya dapat disebut sebagai entitas abstrak, dalam satuan angka-angka, dan atas dasar kegiatan ekonomi hal ini menjadi dapat dihitung, kecenderungan-kecenderungan dapat diramalkan dan keputusan-keputusan perusahaan dapat dibuat. Jelaslah bahwa tanpa kuantifikasi dan abstraktifikasi, produksi massa modern tak dapat dipertimbangkan. Selain membentuk konsep-konsep yang abstrak dan berguna, abstraksi memang menunjukkan kemampuan perkembangan ilmu pengetahuan, dan melepaskan abstraksi-abstraksi berarti seolah kembali kepada cara berpikir primitif. Namun, dalam suatu masyarakat dimana aktivitas ekonomi telah menjadi pergumulan pokok manusia. Proses kuantifikasi dan abstraktifikasi telah melebihi bidang produksi ekonomi, dan mengembangkan sikap manusia terhadap benda-benda, orang lain dan dirinya sendiri. Ketika segala sesuatu, termasuk diri kita, sedang diabstraksikan; realitas konkret dari orang-orang dan benda-benda, digantikan tempatnya oleh abstraksi-abstraksi, oleh hantu-hantu cermin kepribadian yang berbeda secara kuantitas, tetapi tidak berbeda secara kualitas. ”Sebuah mobil 1 milyar”, ”jam tangan 50 ribu” ataupun ”baju 200 ribu” menunjukkan tidak saja sudut pandang pengusaha atapun konsumen ketika membelinya, tetapi juga menunjukkan segi mendasar dalam menggambarkan barang itu sendiri. Dalam hal ini, ketika orang membicarakan mobil seharga 1 milyar, ataupun baju seharga 200 ribu, ia tidak terlalu perhatian dengan kegunaan ataupun keindahannya, sebagai sifat-sifat yang konkret pada benda tersebut. Tetapi orang membicarakan benda-benda tersebut sebagai komoditas, yang kualitasnya utamanya adalah dapat dipertukarkan dan dicerminkan dalam suatu kuantitas, yakni uang. Ketika abstraksi ini sudah menyentuh realitas seorang manusia untuk dikuantifikasi, menjadikan manusia itu sendiri sebagai sebuah komoditas baru. Yang esensi dirinya dapat diungkap dengan angka-angka ketimbang perwujudan totalitas kemanusiaan dari orang tersebut.     Kenyataan yang tidak boleh dilupakan bahwa di masa lampau, pertukaran senantiasa melebihi satu macam barang dan jasa; sekarang, semua pekerjaan dinilai dengan uang. Struktur yang terbentuk di dalam hubungan-hubungan ekonomi modern pun diatur dengan uang, yang menjadi ekspresi abstrak dari kerja. Yang artinya, kita menerima kuantitas yang berbeda dari barang yang sama untuk kualitas yang berbeda. Yakni, hal yang sesungguhnya terjadi hanyalah pergantian antara posisi kita pada suatu waktu sebagai pihak yang memproduksi suatu barang dan mendapat bayaran atasnya dengan posisi kita pada suatu waktu yang lain sebagai pihak yang mengkonsumsi barang tersebut dimana kita memberikan uang sebagai ganti dari apa yang kita terima. Praktisnya, di zaman modern ini hampir tak ada orang, kecuali petani yang menyimpan sebagian padinya untuk dimakan sendiri, dapat hidup untuk beberapa hari saja tanpa menerima dan membelanjakan uang, sebagai aktivitas yang mempertahankan kualitas abstrak dari kerja konkret kita.Sikap religius manusia terhadap kerja sebagai kewajiban yang begitu mewarnai di abad 19 ataupun di abad kejayaan Islam masa lalu, telah berubah dalam dekade-dekade terakhir ini. Manusia modern semakin tidak tahu apa yang harus ia perbuat dengan dirinya sendiri, bagaimana menghabiskan waktu hidupnya secara bermakna selain daripada sekedar mengkonsumsi barang dan jasa material untuk kepuasannya, dan ia terdorong bekerja sekeras-kerasnya, hanya agar ia terhindar dari rasa bosan yang tak tertahankan. Dan itulah awal sekaligus akhir dari nihilitas hilangnya dasar-dasar perikemanusiaan dalam diri kita. Menjadi manusia yang bukan manusia!  Sehingga, tidak mengherankan jikalau kemudian manusia modern memiliki rasa haus yang teramat sangat akan pencarian makna spiritual yang memuaskan dahaganya selama ini. Sebuah pencarian yang boleh jadi teramat panjang bagi mereka yang tidak punya pedoman, namun bisa menjadi singkat bagi mereka yang mau mencari ke dalam jati dirinya sendiri dengan pedoman yang di miliki, khususnya dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.


[1] Erich Fromm (1995) “Masyarakat Yang Sehat”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s