Dari Fitrah Menuju Falah

Manusia Lahir Membawa Fitrah

Setiap orang tua pada umumnya merasakan perasaan bahagia ketika anaknya lahir. Suka cita juga turut mewarnai anggota keluarga, kerabat maupun rekan bisnis dan kerja. Bahkan, jika kita bisa pahami, seluruh penghuni bumi dan langit juga merasakan sukacita dengan bertasbih memuji Allah atas setiap bayi-bayi yang lahir. Hal ini memberi petunjuk bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah.

Sejumlah proses ritual terhadap si bayi segera dilakukan setelah lahir. Jika orang tuanya muslim, maka dikumandangkanlah azan pada telinga kanan dan iqamat pada telinga kiri bayinya sebagai simbol pembersihan batin.

Selang beberapa waktu diadakan acara syukuran berupa aqiqah, yang didalamnya terdapat prosesi pemberian nama dan pencukuran sebagian rambut si bayi sebagai perlambang pembersihan fisik dan pengenalan nama si bayi kepada seluruh makhluk.

Prosesi ritual keagamaan dengan misi yang hampir sama juga dilakukan oleh orang tua yang beragama kristen, yahudi, hindu, budha maupun agama lainnya. Jika orang tuanya beragama kristen, maka diadakan pembaptisan. Begitu pun dengan agama lainnya. Orang tuanya menjadikan bayi yang dalam keadaan fitrah tersebut kemudian menjadi beragama kristen, yahudi, bahkan pagan seperti majusi yang menyembah api atau shinto yang menyembah matahari.

Dinamika Fitrah Dalam Hidup Manusia

Islam adalah agama fitrah. Hal ini menunjukkan bahwa konsep fitrah memiliki asosiasi yang kuat dengan Islam. Asosiasi ini juga menunjukkan bahwa terlahir sebagai seorang muslim adalah merupakan fitrah manusia (human nature).

Fitrah dapat juga diartikan sebagai kebaikan asal (original goodness) sebagai potensi kebaikan yang dibawa sejak lahir. Seseorang dapat melenceng dari fitrahnya ketika diperkenalkan dan diajarkan konsep dan praktik yang salah. Dengan kata lain, fitrah manusia dapat mengalami dinamika pasang-surut.

Dinamika ini dipengaruhi oleh orang tua dan lingkungan yang membentuknya sejak kecil. Jika dia lahir di keluarga muslim dan diajarkan konsep dan praktik ajaran Islam secara benar oleh lingkungannya, maka ia akan hidup lurus (hanif). Begitupun sebaliknya.

Jika dia terlahir di keluarga kristen, maka ia diajarkan tentang dosa asal (original sin) yang dibawa oleh nenek moyang manusia, yaitu adam dan hawa ketika diturunkan ke bumi. Ia harus berupaya menghapus dosa itu seumur hidupnya agar mendapat bagian penebusan dosa dari tuhannya agar bisa masuk ke surga. Hal ini berbeda dengan konsep fitrah yang menyatakan bahwa setiap bayi itu lahir dalam keadaan suci dan tidak menanggung dosa siapa pun.

Di dalam Alquran 30:30 disebutkan bahwa tidak ada perubahanterhadap fitrah manusia. Dalam arti, sekalipun seseorang terlahir dalam keluarga yang beragama  selain Islam, maupun lingkungan yang buruk, orang tersebut tetap dapat kembali kepada fitrahnya. Hal itu tercapai ketika ia sudah mampu mempergunakan akalnya untuk membedakan yang benar dari yang salah. Kemudian memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar., seperti pengalaman hidup almarhum penyanyi Gito Rollies.

Falah (well-being) Sebagai Tujuan Hidup

Tujuan puncak dari seluruh ajaran Islam adalah menjadi rahmat bagi seluruh manusia. Inilah tugas utama yang diemban oleh rasulullah saw. Caranya ialah dengan memberi penyadaran kepada manusia akan fitrah dirinya dan mempromosikan falah sebagai bentuk capaian kesempurnaan hidup manusia (human well-being), tanpa memandang ras, suku bangsa, usia maupun jenis kelamin.

Kata ‘falah’ dan turunannya disebutkan 40 kali di dalam Alquran. Selain itu, kata ‘fawz’ yang memiliki arti sinonim dengan ‘falah’, disebutkan sebanyak 29 kali di dalam Alquran. Kata ‘falah’ ini jugalah yang diseru oleh muadzin lima kali dalam sehari. Hal ini menunjukkan letak urgensi falah sebagai tujuan hidup seorang muslim.

Umer Chapra (2009) dalam bukunya “The Islamic Vision of Development in the Light of the Maqāshid Al-Sharī‛ah” mengatakan bahwa berbagai bukti empiris menunjukkan hasil negatif antara kekayaan maupun pendapatan tinggi sebagai komponen material dengan kebahagiaan dan kesempurnaan hidup manusia. Hal ini dikarenakan, meskipun pendapatan riil meningkat pesat di sejumlah negara sejak PD II, tingkat kebahagiaan maupun perasaan sempurna dalam hidup penduduknya menunjukkan hasil yang tidak saja gagal mengalami peningkatan kebahagiaan, bahkan mengalami penurunan.

Alasan bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan kekayaan ataupun pendapatan yang tinggi hanya sampai batas terpenuhinya kebutuhan yang bersifat fisik-biologis. Lebih dari itu, dibutuhkan hal lain yang bersifat non-material dan spiritual untuk dapat meningkatkan kebahagiaan hidup manusia dalam rangka mencapai kesempurnaan hidup (falah/ well-being).

Konsep falah atau well-being ini tentu berbeda dengan konsep welfare maupun wealth yang selama ini dikenal bertumpu pada kebahagiaan material. Oleh karena itu, sungguh kasihan orang-orang yang masih menjadikan welfare maupun wealth -karena pengaruh lingkungan, termasuk pendidikannya- sebagai tujuan pencapaian hidupnya. Karena falah atau well -being menawarkan tujuan hidup yang lebih sempurna dibanding welfare maupun wealth.

Kesimpulan

Fitrah merupakan pijakan awal setiap manusia untuk mengembangkan potensi kebaikan yang dibawanya sejak lahir. Karena pengaruh orang tua dan lingkungannya, seseorang bisa tergelincir dari fitrahnya. Namun, orang tersebut bisa kembali kepada fitrahnya apabila ia sudah mampu membedakan yang benar dari yang salah dan memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar. Untuk itu, seseorang harus menjadikan falah sebagai tujuan puncak dalam hidupnya. Karena orang yang mengenali fitrah dirinya dengan benar akan mampu melihat tujuan dan bentuk kesempurnaan hidup yang dicarinya.

TONI

Iklan

One response to “Dari Fitrah Menuju Falah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s