HALAL SAJA TIDAK CUKUP !

Serba Halal & Thayyib di Berbagai Segi Kehidupan Muslim

Prolog

Allah swt dengan penuh kasih sayang menganugerahkan dan mempersembahkan bumi beserta isinya untuk dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia. Walau diberi hak penuh secara total, bukan berarti penggunaannya sesuka manusia itu sendiri. Seperti orang yang bertamu, dimana manusia diposisikan sebagai tamu dan Allah adalah tuan rumah (shahibul bait) di bumi ini. Adab si tamu adalah menyesuaikan diri dengan tata aturan tuan rumah, dalam hal ini aturan Allah.

Sebagian besar aturan Allah kepada manusia berhubungan dengan Halal-Thayyib dan haram-khabaaits sebagai rule of game. Yakni aturan tentang hal-hal yang boleh (Halal) dan baik (Thayyib) bagi manusia dan hal-hal yang tidak boleh (haram) dan tidak baik (khabaaits) bagi manusia itu sendiri selama hidupnya di dunia. Aturan tersebut menjadi prinsip dasar dari syariat atau hukum Islam.

Melalui aturan ini, Allah hendak menunjukkan rahmat dan karunia-Nya betapa aturan tersebut dibuat untuk kebaikan manusia itu sendiri (maslahat). Kemaslahatan manusia tersusun dalam tiga tingkatan yang dapat diibaratkan seperti tingkatan kebutuhan; (1) kemaslahatan primer (dharury) meliputi 5 hal, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. (2) kemaslahatan sekunder (hajjiya) yaitu menghindari kesulitan pelaksanaan dalam mewujudkan kemaslahatan primer. (3) kemaslahatan tertier (tahsiniya) yaitu memperkuat dan membaguskan kemaslahatan primer yang berbasis pada akhlak.[i]

Kemaslahatan manusia adakalanya bersifat universal atau berlaku bagi semua manusia (meliputi ibadah mahdah, urusan jinayat, kaffarah, jihad, kepemilikan bersama atau common goods seperti udara, tanah dan air) dan adakalanya bersifat khusus perorangan atau private goods (pemilikan kendaraan, pemilikan rumah). Kemaslahatan tersebut mewujud dalam ketertiban, keamanan, kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Semua itu dimulai dari terpeliharanya pemahaman tentang Halal-Thayyib dan haram-khabaaits dalam keseharian manusia.

Halal Saja Tidak Cukup

Islam sebagai diin yang sempurna telah menyediakan kaidah lengkap bagi umat manusia agar bisa menjalani hidup dengan baik. Segenap aktivitas manusia yang terkait dengan pola konsumsi dan produksi pun mendapat perhatian yang serius dalam Islam. Halal -Thayyib, itulah kaidah dalam Islam yang perlu terus menerus dikaji dan diimplementasikan setiap hari.

Halal-Thayyib ini perlu diimplementasikan secara integral di setiap sisi kehidupan. Baik dalam proses produksi, konsumsi maupun berbagai aktivitas mu’amalah (bisnis dan kehidupan sosial kemasyarakatan) lainnya. Teorinya seperti itu, tetapi bagaimana implementasinya saat ini ternyata masih jauh kesesuaiannya.

Bayangkan situasi berikut ini, kita membeli sebuah daging sapi di pasar atau supermarket untuk di buat dendeng sapi. Kita tahu bahwa daging sapi tersebut Halal atau boleh dikonsumsi menurut Islam. Namun, yang tidak kita ketahui apakah sapi tersebut dalam proses penyembelihannya telah dipotong sesuai ajaran Islam ataukah sekedar mati disetrum atau mati lemas karena terus menerus dipaksa minum air seperti fenomena daging sapi glonggongan. Apakah kita tetap berani memakannya dengan ketidak tahuan tersebut padahal kita bisa menanyakannya. Sudah Halal Thayyib(kah) makanan kita?

Atau bayangkan situasi ini, kita tengah melakukan rekreasi bersama keluarga atau teman ke suatu tempat wisata selama beberapa hari. Apakah wisma atau hotel tempat menginap tersebut juga menjual barang yang haram seperti minuman keras atau berbagai makanan minuman lain yang haram. Apakah restoran atau rumah makan yang anda kunjungi selama wisata tidak jelas apakah mempergunakan bahan perisa, pengenyal atau memakai minyak yang berasal dari substrat atau bahan yang diharamkan seperti lemak babi, lesitin babi, maupun gelatin babi. Sudah Halal-Thayyib(kah) keseluruhan acara wisata kita?

Bayangkan lagi situasi berikut ini, kita memiliki sebuah usaha kelontong yang disitu ada beberapa pegawai yang diupah untuk mengelolanya. Apakah mereka telah diajarkan untuk tidak mengurangi takaran dan timbangan. Apakah mereka telah diajarkan untuk tidak menipu dalam mempromosikan barang yang dijual (ditanya konsumen “telurnya bagus, nggak”; jawabannya “bagus, bu” padahal tidak diperiksa dulu).

Apakah mereka juga telah diajarkan untuk menolak menjual produk yang memiliki kandungan berbahaya seperti rokok, makanan kadaluarsa ataupun makanan yang mengandung MSG yang dapat merusak akal sekalipun para agen penjual yang datang ke toko menawarkan margin keuntungan yang besar. Apakah mereka diberi upah yang layak demi menekan harga jual produk untuk bisa bersaing. Apakah kita mengambil suplai barang dari pabrik, grosir, toko agen yang zalim kepada pegawainya dimana mereka memberi upah yang minim. Secara keseluruhan, sudah Halal-Thayyib(kah) rantai proses usaha berikut keuntungan usaha yang kita peroleh?

Semua uraian ilustrasi di atas menunjukkan bahwa Halal saja tidak cukup. Adanya sertifikasi Halal pada kemasan sebuah produk tidak menjamin sepenuhnya produk tersebut betul-betul layak dikonsumsi apabila produk tersebut dibuat atau diperoleh melalui serangkaian proses yang zalim. Baik zalim terhadap komoditi bahan baku (sapi, ayam, barang hasil curian) maupun zalim kepada tenaga kerjanya (upah minim, penganiayaan dsb).

Pengertian Thayyib dari kacamata ilmu pengetahuan.

Kata Thayyib secara bahasa berarti ‘baik’. Istilah tersebut merujuk kepada sesuatu yang berkualitas, menyehatkan, higienis, ramah lingkungan, menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Aspek ini sering luput dalam penilaian kita sebagai konsumen terhadap suatu barang dan jasa yang akan dikonsumsi.

Kata Thayyib memiliki konotasi makna ‘baik’ dalam artian yang seluas-luasnya. Apabila suatu produk diklaim Halal, boleh jadi lulus sensor pertama terkait keHalalannya. Lantas untuk sensor kedua, yaitu Thayyib, perlu diteliti apakah produk tersebut juga meningkatkan kualitas hidup dan menyehatkan kita. Apakah produk tersebut dikemas secara higienis dan ramah lingkungan. Apakah produk tersebut dibuat atau dijual dengan memperhatikan hak-hak pekerja yang memproduksi ataupun yang menjualnya. Apabila seorang konsumen Muslim telah menerapkan pertimbangan Halal-Thayyib sebelum membeli sesuatu, berarti telah mempraktikkan apa yang dinamakan rasionalitas konsumen Muslim.

Rasionalitas konsumen Muslim jelas berbeda dengan model rasionalitas konsumen yang selama ini dikenal dalam pelajaran ekonomi konvensional, yaitu biaya sekecil-kecilnya dengan keuntungan sebesar-besarnya. Terminologi konvensional ini jelas-jelas menjadi biang kerusakan di darat dan di laut. Dengan biaya sekecil-kecilnya, penggundulan hutan merajalela di hutan-hutan Kalimantan. Dengan biaya sekecil-kecilnya, tenaga kerja ditekan sedemikian rupa untuk bekerja lebih lama dengan upah yang minim. Dengan biaya sekecil-kecilnya, pencurian ikan, perusakan terumbu karang meluas di seluruh pantai Indonesia.

Fatwa Yusuf Qardhawi tentang boikot produk-produk yang menopang kezaliman zionis Israel dilihat dari sisi lain sesungguhnya didasarkan atas kenyataan bahwa tidak semua produk yang, meskipun Halal, juga berarti Thayyib. Sebotol minuman bersoda boleh jadi Halal karena tidak mengandung bahan yang diharamkan seperti babi. Tetapi menjadi tidak Thayyib karena beberapa hal, (1) Karbonasi (Co) yang dikandungnya dapat merusak kesehatan seperti hati atau liver apabila diminum secara rutin. (2) Karbohidrat (C6H12O6) atau zat gula sebagai hasil karbonasinya dapat membuat seseorang mengalami kegemukan (obesitas) apabila diminum secara rutin. (3). Pengerukan sumber mata air dalam skala besar untuk memproduksi jutaan botol minuman bersoda setiap harinya yang berakibat pada pengeringan dan kerusakan lingkungan sekitar. (4). Sebagian keuntungan penjualan minuman bersoda yang kita beli tersebut disumbangkan kepada zionis Israel untuk menyerang saudara-saudara kita di Palestina. Pada poin ini, membeli minuman bersoda tersebut berarti telah merusak tidak saja kesehatan diri kita sendiri, tetapi juga merusak lingkungan dan bahkan ikut membunuh saudara-saudara sesama Muslim di Palestina. Wajarlah jika kemudian produk tersebut layak diboikot. Halal tetapi merusak atau tidak baik (khabaaits) karena tidak ada maslahat yang tercipta dari keberadaan produk tersebut.

Penutup

Meletakkan Halal-Thayyib sebagai kesatuan pertimbangan rasionalitas seorang Muslim dalam memproduksi dan mengkonsumsi suatu barang dan jasa merupakan hal yang sangat urgen atau sangat penting. Lebih penting dari sekedar kebutuhan atau keinginan kita akan model, ukuran, harga, fitur, brand bahkan gengsi.

So, jangan malu masak di rumah atau mungkin makan di warteg apabila warteg tersebut telah betul-betul menerapkan Halal-thayib dalam seluruh rantai proses usahanya dibanding makan di restoran yang tidak jelas soal Halal-thayib. Jangan gengsi belanja kebutuhan sehari-hari di warung kelontong tetapi barang dagangan dan semua proses usahanya memenuhi kriteria Halal-thayib daripada belanja di supermarket atau mini market yang selain menjual barang-barang yang Halal, juga menjual barang-barang yang makruh dan haram. Kasihan pengusahanya, hartanya telah bercampur antara yang Halal dengan yang batil. Kasihan pekerjanya, upahnya diperoleh dari menjual yang Halal dan yang haram. Kasihan kitanya, ditipu iklan dan diskon yang menarik sehingga tidak lagi mempertimbangkan Halal-Thayyib ketika membeli suatu barang dan jasa di suatu tempat.

TONI


[i] Muhammad Nur (2007), “Makanan dan Minuman Yang Halal Dan Thayyib Dalam Pandangan Syari’at Islam”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s