LIMA JALAN MENUJU FITRAH

“Melindungi Iman, Akal, Tubuh, Keturunan dan Harta merupakan tujuan syariah dalam menuntun umat manusia menuju fitrahnya’

Menggugat Rasionalitas Di Era Konsumerisme

Kita semua adalah konsumen. Entah itu sekedar membeli pulsa telepon genggam, deterjen atau air dalam kemasan.  Tidak heran jika kemudian setiap hari isi kepala kita diserang oleh puluhan bahkan ratusan pesan iklan yang menawarkan produk dan jasanya untuk kita konsumsi.

Sebagai konsumen, setiap diri kita memiliki pilihan akan produk dan jasa mana saja yang perlu dan mau kita konsumsi. Akal pikiran, otak kita bekerja setiap hari untuk menyeleksi produk dan jasa mana saja yang bisa dikonsumsi dan mana yang tidak (Buy.ologi : 2008). Namun, pertanyaannya adalah sejauh mana kita, sebagai konsumen mengetahui apa yang kita beli?

Siapa yang tahu apa yang ingin saya beli dan siapa yang tahu apa yang ingin Anda beli. Apa yang sebetulnya mempengaruhi keputusan kita untuk membeli ini dan tidak membeli itu di zaman yang penuh ribuan pesan iklan baik di jalan-jalan, surat kabar, televisi maupun internet.

Dalam memilih suatu produk dan jasa, teori ekonomi secara umum mengatakan bahwa manusia itu rasional. Yaitu, kita diasumsikan menganalisis berbagai pilihan secara sadar dan menimbang-nimbang kelebihan dan kekurangan setiap pilihan secara seksama. Terma rasional, dalam ekonomi konvensional didasarkan pada konsep utilitas dan profit. Sedangkan pada ekonomi Islam terma ini didasarkan pada konsep maslahah dan falah.

Masalahnya, dewasa ini banyak kita temui bahkan alami sendiri bahwa seringkali apa yang dibeli itu bukan didasarkan oleh sesuatu yang kita pikirkan secara rasional melainkan lebih kepada apa kita rasakan secara irasional atau emosional. (How We Decide, 2010). Sejumlah penelitian lain menunjukkan bahwa manusia sering membuat keputusan secara emosional kemudian menjustifikasi bahwa keputusannya itu rasional (‘Neuromarketing: Understanding The Buy Button In Your Customer’s Brain’ ,2007, hal: 10).

Uraian di atas setidaknya mengajak kita mengkritisi dan merenungkan kembali basis rasionalitas pengambilan keputusan diri kita dalam membeli sesuatu. Bagaimana kita yakin dengan kebenaran pengetahuan semacam ini? Bagaimana kita tahu bahwa itu benar-benar keinginan kita untuk membeli sesuatu? Atau jangan-jangan itu hanya sebatas impuls saraf di otak kita berupa sinyal-sinyal energi listrik yang membentuk aktivitas kecil yang terjadi  di bagian yang tak penting di salah satu belahan dari korteks kepala kita, kemudian tiba-tiba menghendaki kita untuk memakai atau tidak memakai produk-produk yang memberi simbol keberagamaan kita sebagai suatu impulse buying hanya karena ada momen ramadhan, misalnya. Lalu, jika bulan Ramadhan usai, apakah kita masih tetap memakai produk-produk tersebut secara sadar dan konsisten?

Menjadikan Fitrah Diri Sebagai Basis Rasionalitas

Terdapat banyak pandangan yang menekankan pentingnya memahami fitrah diri kita sendiri sebagai manusia dalam rangka membangun basis rasionalitas pemikiran. Rasulullah saw pernah mengatakan dalam salah satu haditsnya bahwa barangsiapa mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Aristoteles, seorang filsuf Yunani pernah mengatakan bahwa mengenal diri kita sendiri merupakan awal dari kebijaksanaan. Lao-Tzu, seorang filsuf Cina juga mengatakan bahwa mengenal orang lain merupakan hal yang bijak, tetapi mengenal diri sendiri merupakan pencerahan.

Inti semua pandangan di atas adalah dengan memahami diri kita sendiri sebagai manusia dan hamba Tuhan, niscaya terbuka banyak pemahaman baru yang tidak didapatkan hanya dengan melihat keluar. Akan tetapi, melihat diri kita sendiri bukanlah hal yang mudah. Mengingat, kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain dibanding kesalahan diri. Lebih mudah gengsi melihat apa yang orang pakai dibanding melihat apa yang sudah kita pakai dan mensyukurinya. Lebih mudah melihat ke luar daripada melihat ke dalam.

Dengan populasi penduduk mencapai lebih dari 200 juta jiwa, tidak heran jika Indonesia merupakan salah satu target pasar yang besar. Oleh sebab itu, memahami fitrah diri kita semakin penting dalam membangun rasionalitas berpikir terkait semakin kuatnya desakan konsumerisme di masa kini dan mendatang.

Tujuan Syariah Sebagai Penuntun Menuju Fitrah

Diperlukan latihan dan perangkat metode yang benar untuk dapat memahami fitrah diri kita sebagai manusia agar tidak tergelincir dalam bentuk rasionalitas berpikir yang salah. Hal ini disadari betul oleh Imam Al-Ghazali yang menuntunnya untuk membuat konsep Maqasid Syariah atau tujuan syariah.

Al-Ghazali mengatakan bahwa tujuan syariah adalah untuk mempromosikan kebahagiaan dan kesempurnaan hidup manusia yang tercermin dalam upaya perlindungan terhadap iman, diri, akal, keturunan dan harta mereka. Apapun yang dapat menjaga ke lima hal tersebut akan menjadi kepentingan umum dan karenanya diinginkan. Serta apapun yang dapat merusak atau menyakiti lima hal tersebut akan berlawanan dengan kepentingan umum dan menghilangkan perusaknya merupakan hal yang dikehendaki bersama. (dalam Chapra: 2009, hal: 5).

Dari pemikiran Al-Ghazali tersebut, tersirat bahwa rasionalitas setiap orang dituntun menuju fitrahnya. Yaitu dengan menjalankan berbagai aktifitas, termasuk di dalamnya mengkonsumsi barang dan jasa yang dapat menjaga dan memelihara lima aspek tersebut di atas yang akan mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat.

Hal-hal yang menjadi kecenderungan sifat dasar manusia yang baik atau fitrah ini sebetulnya sudah dikemukakan oleh rasulullah saw secara tersurat maupun tersirat di dalam banyak hadits. Sebut saja diantaranya ‘kebersihan sebagian dari iman’, ‘iman itu ada tujuh puluh cabang, yang tertinggi ucapan kalimat Laa ilaha illallah dan yang terendah membuang duri dari jalanan, dan malu sebagian dari iman’.

Dari beberapa hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa manusia cenderung suka pada hal yang bersih dan indah, cenderung suka menolong maupun cenderung malu untuk berbuat kejahatan bila diketahui orang banyak. Inilah sebagian contoh wujud fitrah manusia yang telah diajarkan rasulullah saw dan menjalankannya berarti telah memenuhi tujuan syariah. Dengan kata lain, melindungi iman, akal, tubuh atau jiwa, keturunan dan harta merupakan tujuan syariah dalam menuntun umat manusia menuju fitrahnya’. Dan fitrah merupakan landasan rasionalitas seorang muslim dalam beraktifitas untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

 

TONI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s