Mengembalikan Ekonomi Pada Fitrahnya

Model dan praktik ekonomi yang dominan saat ini cenderung mengasingkan manusia dari fitrahnya. Hal ini memberi akibat terjadinya berbagai pelanggaran yang dilakukan manusia terhadap larangan Allah. oleh karena itu, kegiatan ekonomi harus dikembalikan sesuai fitrah

Manusia diberi Akal dan Kehendak Untuk Menyempurnakan Fitrah Dirinya

Manusia berbeda dari makhluk ciptaan Allah yang lain karena diberi akal dan kehendak. Akal tersebut dipergunakan untuk membedakan yang benar dari yang salah. Adapun kehendak dipergunakan untuk bertindak. Manusia dapat mempergunakan kedua sarana tersebut untuk menyempurnakan fitrah dirinya yang merupakan pemberian Allah maupun merusaknya, pilihannya kembali kepada si manusia.

Manusia bertanggung jawab atas setiap perbuatannya. Kebaikan maupun keburukannya diperhitungkan oleh Allah, walaupun sebesar atom. Hal ini merupakan proses akuntabilitas fitrah manusia yang menuntunnya untuk bertindak sesuai dengan kehendak Allah, termasuk dalam kegiatan ekonomi.

Ekonomi Yang Mengasingkan Manusia Dari Fitrah

Model dan praktik ekonomi yang dominan saat ini cenderung mengasingkan manusia dari fitrahnya. Hal ini memberi akibat terjadinya berbagai pelanggaran yang dilakukan manusia terhadap larangan Allah.

Beragam praktik pelanggaran dalam kegiatan ekonomi terjadi akibat keterasingan manusia dari fitrahnya. Praktik seperti ihtikar atau menimbun barang kebutuhan pokok, mengambil dan memakan harta riba, mengurangi takaran dan timbangan demi meraih keuntungan berlipat, berlomba-lomba dalam kemegahan diri yang membawa kemubaziran melalui konsumerisme hingga egois, riya dan pamrih dalam berbuat.

Hal yang paling mengasingkan manusia dari fitrahnya adalah menjadikan ekonomi sebagai tuhan yang merupakan bentuk syirik ekonomi sebagaimana pernah diulas Sharing beberapa edisi sebelumnya. Angka-angka pertumbuhan ekonomi dipuja sedemikian rupa layaknya kidung yang penuh khidmat. Kekayaan dipuja sebagai simbol keberhasilan dan kesuksesan manusia sehingga status dan perlakuan pun dibedakan. Pongah dan kikir menjadi jati diri manusia yang baru dalam ekonomi yang dominan karena merasa semua keberhasilan merupakan hasil usahanya semata, membentuk manusia-manusia yang syirik terhadap pemberian Allah.

Sudah banyak akibat buruk yang terjadi karena pelanggaran dalam kegiatan ekonomi manusia melalui praktik ekonomi yang dominan saat ini. Sebut saja inflasi, pengangguran dan kesenjangan, kerusakan alam, pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan keseimbangan dan kemaslahatan banyak pihak demi kepentingan segelintir manusia yang berlaku zalim namun merasa berbuat baik menurut prasangkanya. Hal perilaku di atas menunjukkan akal dan kehendak manusia yang tidak dipergunakan sesuai dengan kehendak Allah. karena itu, manusia pun terasing dari fitrah dirinya.

Mengembalikan Ekonomi Pada Fitrahnya

Sifat dasar yang melekat pada diri manusia sesunggguhnya berada dalam kebaikan (fitrah) selama manusia itu tidak melakukan perbuatan yang bersifat korup atau merusak, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Merupakan kewajiban atau tugas manusia untuk menjaga sifat dasar yang baik itu dari pengaruh dan godaan iblis, musuh manusia yang sesungguhnya.

Iblis menggoda manusia dengan menanamkan rasa takut dan serakah di hatinya. Ada orang yang minta sedekah, ditanamkan rasa takut miskin. Ada pesaing bisnis yang muncul, ditanamkan rasa takut tersaingi dan serakah untuk menguasai pasar. Ada bawahan atau rekan kerja yang kinerjanya cemerlang, ditanamkan rasa dengki dan iri sehingga berupaya menghambatnya. Ada lembaga keuangan yang mengenakan bunga yang tinggi kepada nasabahnya yang tidak memiliki aset karena takut rugi atau tidak mampu melunasi. Ada tetangga yang membeli mobil baru yang bagus, ditanamkan rasa gengsi sehingga membeli mobil yang lebih bagus meskipun mobil yang lama tidak kalah bagus.

Untuk melawan iblis yang menjerumuskan manusia dari fitrah dirinya ke dalam syirik ekonomi berikut turunannya, manusia perlu berlindung kepada Allah dengan syahadat yang benar. Yaitu dengan mengucapkan, memahami dan mengamalkan isi syahadat tersebut. Tentu iblis tidak berdaya membuat seseorang menjadi musyrik, tuhan-tuhan ciptaan Iblis bernama ekonomi, pertumbuhan, kekayaan tidak akan disembah dan dipuja.

Pengamalan syahadat yang benar membuat akal menjadi cemerlang dan tidak ada rasa takut, terburu nafsu dan ragu-ragu maupun minder dalam berbuat. Lebih dari itu, manusia memperoleh ‘kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya’, karena tidak lagi tunduk kepada siapa pun dan di tekan oleh siapa pun. Tidak takut merasa miskin karena Allah menjamin akan menggandakan harta orang yang bersedekah. Tidak takut terhadap pesaing karena Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk di muka bumi. Tidak dengki kepada bawahan maupun rekan kerja yang cemerlang karena setiap orang diberi oleh Allah potensi untuk berkembang dan mengembangkan diri.

Jurus lain untuk melawan godaan iblis dalam rangka mengembalikan ekonomi kepada fitrahnya adalah dengan shalat, sedekah, puasa, silaturahmi, bersyukur dan bersabar. Shalat menjadi jurus manusia untuk menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar, termasuk di dalamnya perbuatan mengambil dan memakan harta riba, menggunjing (ghibah) dan fitnah.

Sedekah menjadi jurus untuk merasa mampu dan kaya serta peduli terhadap orang lain. orang yang kikir atau pelit justru dipandang tidak mampu dan miskin karena tidak mampu memberi serta dijauhi karena dianggap hanya mempedulikan diri sendiri. Sedekah ilmu tambah kaya, sedekah ilmu tambah pintar dan mulia, sedekah tenaga tambah sehat, sedekah senyum tambah awet muda, bahkan sedekah doa akan dijamin tercapai keinginan atau cita-cita serta ketenangan jiwa.

Jurus yang juga ampuh untuk menangkal godaan iblis adalah puasa. Dengan berpuasa, manusia lebih mampu mengendalikan gelora nafsu. Puasa makan dan minum mengendalikan nafsu perut dan mubazir. Puasa emosi mengendalikan amarah. Puasa serakah dan birahi mengendalikan kerusakan dan kemaksiatan. Puasa mulut mengendalikan dari kata-kata kotor dan bergunjing.

Di tingkat pergaulan masyarakat, jurus yang jitu untuk menangkal godaan iblis dari perpecahan dan permusuhan adalah dengan bersilaturahmi. Silaturahmi menjadi kunci keharmonisan hubungan manusia yang penting dalam pembentukan keluarga dan masyarakat yang sakinah mawaddah wa rahmah. Masyarakat yang harmonis akan menciptakan kestabilan. Hal ini tentu akan berdampak positif terhadap perekonomian.

Jurus yang tidak kalah penting dari godaan iblis ketika memperoleh sebuah hasil adalah bersyukur dan bersabar. Perbuatan yang tidak disenangi Allah merupakan perbuatan yang disenangi iblis. Maka dibuatlah jerat dan ranjau yang dapat membuat manusia tidak mau bersyukur kepada Allah.

Orang yang tidak mau bersyukur memiliki sikap lupa diri dan tidak peduli terhadap orang lain. Merasa paling mampu dan tidak perlu bantuan orang lain. cenderung mengecilkan peran pihak lain yang membantunya. Mau memberi untuk kemaksiatan namun enggan memberi untuk kebaikan. Serta tidak bisa menempatkan diri pada posisi yang sebenarnya, sewajarnya atau semestinya di tengah-tengah masyarakat.

Bersyukur akan memberi manusia kesempatan untuk meningkatkan kualitas hubungan, baik kepada Allah maupun kepada sesama. Bersyukur akan melindungi manusia dari azab dan musibah. Bersyukur juga akan memberi manusia tambahan hasil yang lebih baik. Lebih dari itu, kunci untuk menciptakan negeri yang makmur dan sejahtera adalah masyarakatnya banyak bersyukur.

Adapun kekalahan di berbagai lapangan usaha dan pekerjaan disebabkan tidak sabar. Iblis sangat ingin manusia gagal, supaya tidak berhasil, supaya kacau dan berantakan. Maka iblis pun menciptakan program ‘terburu-buru’. Terburu-buru membeli suatu barang karena takut kehabisan padahal bukan barang kebutuhan utama sehingga menimbulkan penyesalan. Terburu-buru menikah sehingga melabrak berbagai aturan sosial yang kemudian menyebabkan hubungan yang tidak harmonis antar keluarga.

Sabar memiliki manfaat yang banyak. Terpelihara dari putus asa, keluh kesah dan stres yang dapat membuat gila. Tercapainya keinginan dan cita-cita serta inovasi. Tercapainya kemajuan dan kesejahteraan dalam semua bidang. Dengan sabar, akan dicintai Allah, menang dan jaya. Dengan sabar, manusia tidak akan mengalami penyesalan kemudian, sampai ke tujuan dan bahagia.

TONI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s