TEORI SISTEM JAMINAN TUHAN

“JANGAN ENGKAU SIBUK MENCARI YANG SUDAH DIJAMIN TUHAN UNTUKMU, NAMUN ABAI TERHADAP APA YANG DIKEHENDAKI TUHAN DARIMU”

TINGKAH POLAH MANUSIA MENCARI REZEKI

Kesibukan senantiasa mewarnai hari-hari kita. Ada yang ke sekolah, ada yang ke tempat kerja maupun tempat usaha. Semua sibuk mencari hal yang sesungguhnya telah dijamin oleh Allah. Apabila hasil atau rezeki hari ini sedikit, ia akan berupaya lebih menyibukkan diri mencari hasil atau rezeki yang lebih banyak pada hari berikutnya. Berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam.

Fenomena di atas tergambar jelas dengan berbagai tingkah polah manusia saat ini yang lebih disibukkan dengan perbekalan mencari rezeki. Orang tua disibukkan dengan target dan peningkatan pendapatan untuk membiayai hidup yang kian mahal. Sementara anak-anak kian disibukkan dengan les dan kursus-kursus usai sekolah untuk mencapai tingkat pendidikan yang tinggi agar kelak dapat bekerja dengan penghasilan yang tinggi. Terjadilah siklus pengulangan ketika anak-anak itu menjadi orang tua di masa depan dan bertingkah laku seperti orang-orang terdahulu. Sibuk dalam mencari rezeki! Begitulah yang terjadi setiap hari.

Memahami Sistem Jaminan Tuhan

Ibnu Athaillah (wafat 709 H/ 1309 M), dalam kitab Al-Hikam mengemukakan sebuah aforisme yang memiliki makna mendalam berkenaan dengan perilaku manusia yang lebih disibukkan dengan urusan mencari rezeki.

Sungguh dirimu telah buta! Buta ketika dirimu tenggelam dalam susah payah demi menggapai sesuati yang sebenarnya telah dijamin bagimu.

Sungguh engkau telah buta! Buta ketika dirimu lengah dan abai menjalankan segala hal yang mestinya engkau jalani.

Sejak janin manusia berada di dalam rahim ibu, maka urusan rezekinya telah ditetapkan Allah bersama dengan ketetapan lainnya seperti umur, kesehatan dan ilmu. Ketetapan Allah tersebut tidak akan diperbarui dan tak berubah meskipun zaman berubah. Yang terbarui hanyalah kemunculannya, yakni cara rezeki itu datang, bukan ketetapan dan keberadaannya.

Yang penting untuk dipahami adalah bahwa Allah sudah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya hingga ajalnya. Jadi, sebetulnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan apakah seseorang hari ini bisa makan atau tidak. Seseorang yang dikurung atau di-PHK pun tetap menerima rezeki dari Allah selama ajalnya belum tiba. Bagaimana caranya rezeki itu sampai kepada si hamba yang dikurung berikut besarannya, hal itu menjadi rahasia Allah. Sehingga, keyakinan bahwa Allah telah menjamin rezeki si hamba dan bukan dari selain-Nya menjadi hal yang utama untuk dijalankan oleh setiap mereka yang beriman kepada Allah.

Namun, setan senantiasa menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan kelaparan. Disinilah ujian berat bagi kebanyakan manusia. Takut menjadi miskin sehingga kalau perlu mencari rezeki dari pagi sampai ke pagi berikutnya, sampai perlu pergi ke dukun bahkan korupsi agar segera kaya. Takut tidak punya uang sehingga tidak bisa makan dan membeli yang diinginkan, lantas menjadi kikir. Inilah penyakit keimanan yang mendera banyak manusia modern yang lebih memandang materi.

Rasa yakin-tidak yakin bahwa Allah menjamin rezeki hamba-Nya pun menjadi pertanyaan yang sering bergejolak di dalam hati. Apabila mendapat rezeki maka bergembira, apabila tidak memperolehnya maka sedih dan keluh kesah mewarnai hatinya. Sepercik tanda kurangnya iman kepada Allah.

Tetapi karunia Allah itu lebih besar dibanding apa yang ditakutkan manusia. Dan Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena Allah jua yang menciptakan manusia, memberinya rezeki, mematikannya dan menghidupkannya kembali di hari akhir.

Tipologi Manusia Dalam Memahami Sistem Jaminan Tuhan

Terdapat empat tipe manusia yang menjadi model keyakinannya terhadap rezeki berkenaan dengan sistem jaminan Tuhan, baik ketika memperolehnya maupun ketika kehilangannya. Sebagian manusia, ketika mendapat rezeki yang banyak, merasa bahwa itu merupakan hasil dari usahanya. Tiba-tiba musibah menimpa dirinya yang membuatnya harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Entah itu sakit, kena tipu, bahkan masuk penjara karena suatu tuduhan, lantas ia berkeluh kesah bahwa Allah tak lagi sayang padanya.

Sebagian manusia yang lain, ketika mendapat rezeki yang banyak, merasa bahwa itu semua merupakan karunia Allah yang menjadi ketetapan-Nya. Lalu musibah menimpa dirinya yang membuat hartanya tersebut habis. Lantas, ia bersabar dan mengembalikan semua pada Allah karena itu merupakan ketetapan-Nya juga sebagai Yang Maha Pemilik dan Maha Berkehendak.

Ada sebagian manusia yang lain, berdoa memohon diberi rezeki yang banyak oleh Allah, namun tak kunjung diberi. Ia pun sudah berikhtiar, namun yang diharapkannya tak kunjung datang. Lantas ia berrputus asa dari rahmat dan jaminan Allah atas rezekinya.

Ada lagi sebagian manusia yang berdoa memohon diberi rezeki yang banyak oleh Allah, namun tak kunjung diberi. Ia pun sudah berikhtiar melakukan berbagai upaya, namun yang diharapkannya tak juga datang. Lantas ia tetap berpegang pada rahmat dan jaminan Allah bahwa bagiannya akan diterima suatu saat nanti.

Financial Freedom dan Jenis  Pemahaman Yang Keliru Terhadap Sistem Jaminan Tuhan

Mereka yang betul-betul meyakini akan jaminan rezeki dari Allah akan merasa ’lucu dan heran’ dengan munculnya buku-buku maupun program-program acara bertema ’financial freedom’ yang saat ini marak. Seolah-olah buku maupun program tersebut hendak mengatakan bahwa bila belum merdeka secara finansial, seseorang tidak akan merasa bahagia sepenuhnya. Padahal pandangan tersebut mewakili cara setan menakut-nakuti manusia, namun banyak manusia terpesona olehnya.

Padahal, Allah yang menciptakan semua makhluk di bumi ini. Dia juga menciptakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kefakiran dan kekayaan mereka. Dia menciptakan kefakiran dan kekayaan guna menguji siapa diantara mereka yang paling baik perbuatannya. Diberi-Nya sebagian dari mereka yang mempercayai ’financial freedom’ kekayaan yang diinginkan sebagai istidraj dan sebagian lagi tidak diberi-Nya sebagai penyadaran untuk kembali kepada-Nya.

Ada lagi pandangan yang keliru dalam memahami rezeki yang dijaminkan Allah. Yakni, bahwa jika Allah sudah menjamin rezeki, untuk apa bekerja. Pandangan ini mewakili golongan orang-orang yang bekerja ketika dihadapkan pada pemahaman akan rezeki yang dijamin oleh Allah.  Dalam hal ini, sikap tawakal seseorang kepada Allah dalam urusan rezeki tidak bertentangan dengan usaha manusia. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa seseorang harus bertakwa kepada Allah dan mintalah (carilah) rezeki dengan cara yang baik.

Hadits di atas menunjukkan bahwa ketika Rasulullah mengajak manusia ke jalan Allah, ia tak pernah sekalipun memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berhenti bekerja. Ia membolehkan mereka berusaha mencari rezeki dan mengerjakan sesuatu yang di ridhoi Allah. Rasulullah tidak mengatakan “jangan mencari rezeki”, namun “carilah rezeki dengan cara yang baik.” Yaitu dengan tetap menjaga etika dan tetap berserah diri atau tawakal kepada-Nya.

Yang dimaksud dengan etika meminta (mencari) rezeki yang baik adalah meminta kepada Allah tanpa menetapkan batasan, sebab, dan waktunya. Sehingga Allah akan memberikan kepada si hamba apa yang dikehendaki-Nya, dengan cara yang dikehendaki-Nya dan di waktu yang dikehendaki-Nya.

Orang yang mencari rezeki seraya menetapkan kadar, sebab dan waktunya, berarti telah ikut mengatur Allah dalam mengatur rezeki. Sikap yang demikian menunjukkan kelalaian hatinya. Dan itulah fenomena yang banyak kita lihat di akhir tahun, banyak orang berlomba mencurahkan segenap perhatiannya untuk mengejar target-target pencapaian pribadi maupun perusahaan dan tenggelam di dalam pengejaran tersebut. Padahal cara tersebut hanya akan memalingkan perhatiannya dari konsep rezeki yang dijamin oleh Allah dan itu bukanlah cara mencari rezeki yang baik dan beretika dalam pandangan Allah.

TONI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s